Berita > Seputar TKI
Bersama Organisasi Pekerja Migran Berbagai Negara di Malaysia, ITUC Luncurkan Website Pantau Perekrutan
18 Dec 2017 23:18:49 WIB | Figo Kurniawan | dibaca 586
Ket: Peringatan Migrant Day 2017 dan peluncuran website MRA di Malaysia
Foto: Nasrikah/ LBMIMY
Kuala Lumpur, LiputanBMI - International Trade Union Confederation (ITUC), sebuah konfederasi serikat buruh internasional meluncurkan website untuk memantau proses perekrutan pekerja migran dari negara asal ke Malaysia, Minggu (17/12/2017).

Peluncuran website bertajuk Migrant Recruitment Advisor ( MRA) tersebut berkolaborasi dengan organisasi pekerja migran dari berbagai negara seperti PNCC Nepal, AMMPO Philippines, Gefont Nepal, dan Komunitas Serantau Indonesia.

Selain itu, MRA juga menggandeng NGO lokal, Malaysian Trade Union Committee (MTUC) dan North South Initiative (NSI).

Acara yang dilangsungkan di St John Community Hall, Bukit Nanas, Kuala Lumpur itu sekaligus juga dalam rangka memperingati Hari Buruh Migran Internasional 2017.

Koordinator MRA, Lindu Livan dalam sambutannya mengatakan, hingga saat ini masih banyak terjadi overcharging dalam perekrutan buruh migran.

Padahal menurutnya, sudah lebih dari 25 tahun dua instrumen hak asasi manusia, 25 tahun Konvensi PBB tentang Perlindungan Buruh Migran dan 42 tahun Konvensi ILO tentang Pekerja Migran 143 telah ditandatangani.

Lindu berharap, selain bertujuan untuk melayani kebutuhan para pekerja migran, website yang diluncurkan juga sebagai platform untuk mencari dukungan, mempelajari kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang melindungi hak-hak pekerja migran.

Ia juga berharap dapat berbagi pengalaman tentang rekrutmen pekerja migran untuk mengekspose praktik kotor agen dan pihak terkait.

“Kami berharap pada akhirnya nanti suara para pekerja migran didengar dan menjadi kekuatan terdepan dalam perubahan demi kemajuan kehidupan, keluarga dan kemanusiaan mereka. Kami percaya bahwa dengan usaha bersama, kita semua bisa melakukan perubahan. Impian semua pekerja berhak atas upah dan kehidupan yang layak adalah mungkin,” katanya.

Sementara itu, Nasrikah Sarah dari Komunitas Serantau mengatakan pihaknya siap memberikan masukan-masukan untuk memantau proses perekrutan pekerja migran dari Indonesia.

Ia juga mengapresiasikan berkumpulnya aktivis dan organisasi pekerja migran lokal dan internasional dalam merayakan Migrant Day karena selama ini dirayakan sendiri-sendiri.

"Kita masih sering mendengar buruh migran menangis, disiksa, diperbudak, hak-haknya dirampas. Banyak buruh migran ditipu agen, ada yang lari dari majikan karena kerja tak layak, dieksploitasi, tidak digaji, kemudian lari dari majikan dan menjadi pekerja yang tidak berdokumen," tutur Nasrikah dalam sambutannya mewakili pekerja migran.

Nasrikah berharap acara bisa ini dijadikan momen untuk bersatu menyuarakan hak dan melawan ketidakadilan, sehingga dapat memberi masukan dan desakan kepada para pembuat kebijakan agar pekerja migran betul-betul terlindungi.

>>
Note:
Reportase Nasrikah Sarah pada peringatan Migrant Day 2017 di Malaysia


(FK/RED, 18/12)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
BNI Saudi Arabia
ATC Cargo
psstki