Berita > Seputar TKI
Jaksa Agung RI Ungkap 3 Masalah Besar Indonesia dan Ajak TKI Patuhi Hukum
08 Dec 2017 11:56:52 WIB | Wijiati Supari | dibaca 1229
Ket: Jaksa Agung HM. Prasetyo didampingi oleh para staff KJRI Hong Kong
Foto: LBMI
Hongkong, LiputanBMI - Jaksa Agung Republik Indonesia H.M. Prasetyo mengungkap tiga masalah serius sedang dialami oleh Indonesia, dan saat ini sedang ditangani oleh pemerintah bekerjasama dengan elemen masyarakat.

“Yang pertama adalah masalah korupsi, kedua narkotika, ketiga masalah radikalisme dan terorisme. Ini masalah serius yang sedang kita hadapi sekarang ini, dan kita menyatakan bahwa korupsi adalah musuh kita bersama dan harus kita berantas," ungkap Prasetyo.

"Sekarang negara kita menyatakan darurat narkoba, dan harus kita perangi, ini sangat memprihatinkan, tidak kurang dari 5.800.000 korban penyalahgunaan narkotika, bahkan seharinya tidak kurang dari 30 hingga 50 meninggal dunia,” tambahnya.

Dalam kesempatan berkunjung ke KJRI Hong Kong pada perjalanan menuju Nanning, China, untuk menghadiri acara konferensi Jaksa Agung China - ASEAN 2017 pada Senin (04/12/17) ini Prasetyo menyampaikan bahwa faham radikalisme cenderung bisa mengarah ke terorisme, karena menurutnya ada kelompok radikal yang ingin menggangu stabilitas keamanan Indonesia.

Sebelum mengakhiri sambutan, HM. Prasetyo berpesan kepada WNI, khususnya buruh migran untuk selalu bersyukur dan bisa membantu mensejahterakan keluarganya, menghindari pelanggaran hukum, dan selalu menjaga kehormatan bangsa di negeri orang.

“Saat ini terdapat 132 WNI yang sedang berurusan dengan masalah hukum di Hong Kong dan Macau, 90 orang di antaranya telah terpidana, dan 32 masih dalam proses hukum. Tidak semuanya mereka itu mungkin bersalah, tapi karena ketidaktahuannya itulah dia harus berurusan dengan hukum di negara setempat," ungkap Prasetyo.

Oleh karena itu, dalam kesempatan tersebut Prasetyo meminta Fungsi Kejaksaan KJRI Hong Kong untuk memberikan penerangan kepada buruh migran agar jangan sampai terjerat masalah hukum, karena menurutnya BMI bekerja memiliki tujuan untuk mengadu nasib, sementara Indonesia belum mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang memadai.
(WSP/RED, 08/12)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
BNI Saudi Arabia
ATC Cargo
psstki