Berita > Ekosospol
Hanya Dengar Kata Orang, Wartawan Saudi Terperangah Setelah Lihat Indonesia
27 Nov 2017 13:37:39 WIB | Iyad Wirayuda | dibaca 4424
Ket: Rekan Media Saudi saat berkunjung ke Indonesia bersama Staf Pensosbud KJRI Jeddah
Foto: Fauzy Chusny
Nasional, LiputanBMI - Indonesia adalah salah satu negara yang banyak mengirim warganya bekerja ke luar negeri sebagai tenaga kerja domestik. Berdasarkan data Kementerian Luar Negeri tahun 2017 tercatat sebanyak 4,3 juta WNI yang berada di luar negeri, 60 persen diantaranya sebagai TKI.

Kondisi inilah yang membuat negara lain memandang Indonesia hanya dari satu sisi, yaitu pengirim tenaga kerja.

Seperti halnya yang diungkapkan salah satu pegawai lokal staf KJRI Jeddah, Fauzy Chusny melalui sebuah postingan di Facebook yang diberi judul Indonesia Tercinta, Bukan Negeri Biasa pada 23 November 2017, menceritakan pengalamannya selama bergaul dengan warga Saudi.

"Saat ngobrol sesama pasien di rumah sakit ketika antre bertamu ke dokter, di pantai saat menghabiskan waktu bersama keluarga, di pusat perbelanjaan saat antre di kasir, bahkan saat menerima rekan media di kantor, topik paling manis untuk dibahas oleh mereka hanya seputar yang "satu itu" kapan pengiriman dibuka?, pembantuku di rumah pingin bikin iqamah (Kitas), dia orangnya baik, bagaimana caranya ya? bla..bla..blahh…," tulisnya.

"Bahkan suatu ketika saat mengikuti sebuah gelaran kebudayaan di Jeddah, seorang pengunjung perempuan berparas lumayan berkulit agak gelap mendekati saya dan langsung menyapa to the point: Enta Andunosi? (Kamu orang Indonesia?). Saya pikir mau bertanya tentang benda-benda dan gambar-gambar yang lagi dipajang di stan. Dia malah nyerocos tentang ART-nya yang katanya berasal dari Indonesia," sambungnya.

Sejak diberlakukannya moratorium TKI domestik pada tahun 2011, warga Saudi sepertinya merasa kesepian karena tidak bisa mengambil PRT Indonesia.

Menurut Fauzy, pandangan secara umum masyarakat Saudi yang belum pernah berkunjung ke Indonesia terepresentasikan hanya ke soal pengiriman TKI.

"Saya sama sekali tidak ada niat apa-apa atau memandang buruk tentang fakta ini. Hanya saja menyayangkan bahkan tidak terima bila negeri yang saya cintai dan saya banggakan ini hanya dikenal dari sisi ini saja. Seolah tiada lain tentang Indonesia kecuali yang satu itu," katanya.

Namun hal yang mengharukan sekaligus membanggakan pun dialami Fauzy saat tiba di terminal dua, Bandara Internasional Soekarno Hatta untuk mengantar wartawan Saudi meliput.

"Seorang rekan media memegang tangan saya (jangan berburuk sangka ya, dia itu cowok), lantas bilang sambil menunduk malu. Fauzy, maafkan saya ya, selama ini saya berpandangan buruk tentang Indonesia, bandaranya kumuh, jalannya rusak," ungkapnya.

"Ahh, nyantai aja Bro," jawab Fauzy mencoba menetralisir situasi.

Kisah lainnya juga disebutkan Fauzy tentang rekan media lainnya yang akan menerima tawaran kunjungan ke negera lain jika tidak ada undangan dari Indonesia. Bahkan rekan media itu menunjukan hasil jepretannya tentang keindahan Indonesia kepada orang lain yang membuat terperanggah tidak percaya.

Diakhir postingan tersebut, Fauzy mengaku sering menyampaikan kepada rekan media Saudi bahwa Wonderful Indonesia bukan sekedar cerminan dari kekayaan budaya Indonesia yang beraneka ragam, pesona alamnya yang elok memikat, melainkan juga pancaran sikap bangsanya yang ramah dalam menyapa tamu dengan sambutan yang hangat dan senyuman yang mempesona. Inilah pesan tersirat dari "Wonderful Indonesia" atau Pesona Indonesia.

"So, teman-teman di mana pun berada di luar negari, be a good ambassador of wonderful Indonesia. Atau, setidaknya dengan berperilaku (berakhlak) baik di negeri orang, anda sudah berperan serta menjaga citra bangsa," tutupnya.


Lihat videonya di sini...

(IYD, 27/11)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
ATC Cargo
psstki