Berita > Opini
Generasi Beruntung
10 Nov 2017 08:00:23 WIB | Redaksi | dibaca 833
Ket: Hariri Thohir
Foto: LBMI
Nasional, LiputanBMI - Di antara pasang surutnya kebisingan medsos yang sangat temporal, beberapa pekan lalu sempat kita diramaikan oleh kisah mahasiswa doctoral di Technische Universiteit Delft Belanda asal Indonesia yang berhasil membuat kita terkecoh alias kecele atas klaim-klaim mengenai prestasinya di bidang antariksa yang ternyata fiktif belaka.

Mengambil hikmah sekaligus menelisik akar atau sebab musabab dari kejadian yang diprakarsai Dwi Hartanto di atas, tak dinyana penulis mendapati fakta banyaknya 'Dwi-dwi' lain yang bertebaran di luar sana.

'Dwi-dwi' yang dimaksud penulis bukanlah tukang klaim. Melainkan para The Agent of Change kita di Eropa itu yang mengidap gangguan psikis atau depresi akibat rasa tertekan. Baik disebabkan oleh cultural clash, kangen sanak keluarga, hingga tuntutan dari universitas setempat.

Kabar baiknya, universitas-universitas di luar negeri tersebut sudah terbiasa dan berpengalaman menangani peristiwa-peristiwa yang demikian.

Maka beberapa di antara universitas tersebut menyediakan klinik atau jasa konsuling guna sebagai bentuk kepedulian serta tanggung jawab terhadap anak didiknya.

Bahkan mahasiswa asing satu sama lain memiliki tingkat empati yang tinggi karena didorong banyak motif yang serupa. Beruntung.

Pengantar di atas keadaannya jauh berbeda dengan tempat di mana penulis tumbuh. Yakni, di Jeddah, Arab Saudi.

Dimulai sejak dini, kami (anak-anak BMI, khususnya di Jeddah) mengeyam pendidikan di tempat yang itu-itu saja hingga SMA.

Di sebuah gedung yang tahun ini sudah menginjak 9 tahun dalam masa pencarian gedung karena sudah sangat amat tidak layak. Sekali lagi dan sedapat mungkin bayangkan. Sembilan tahun! Sudah setidak layak apakah gedung itu sekarang?

Kami tumbuh kurang lebih 12 tahun lamanya di gedung yang hanya diimbangi dengan 39 jasa guru. Demikian data yang penulis terima tahun lalu.

Pertanyaan sederhananya, jika jumlah 39 jasa guru ini ada di tahun lalu. Bagaimana dengan jumlah lima, enam, tujuh tahun sebelumnya? Dan akan terus sejumlah itu sajakah hingga masa yang akan datang? Bagaimana pengelolaan perangkapan peran yang mau tidak mau selama ini dilakoni 39 guru tersebut?

Sedangkan jumlah kami yang berstatus siswa alias yang masih tumbuh berkembang di gedung itu saja sekarang telah mencapai angka 1.447 murid. Belum terhitung dengan kami yang di luar gedung. Baik yang sudah ke luar karena selesai masanya juga yang bakal masuk di akan datang. Berapa banyak jumlah keseluruhan anak-anak BMI di Arab Saudi di tahun 2017?

Ditinjau dari persoalan infrastruktur dan SDM sebagai kebutuhan vital saja penyelesaian masalahnya butuh waktu 'berabad-abad', maka bagaimana dengan perkembangan mental dan pengembangan diri generasi-generasi bangsa di Jeddah dapat menjadi orientasi utama?

Usut punya usut, ternyata gedung Masjid Indonesia Jeddah (MIJ) yang juga merangkap sebagai Taman Pendidikan Al-Qur'an alias TPA Al-Naashiriyyah keberadaannya saat ini terancam sebab harga sewa gedung naik.

Sedangkan MIJ adalah tangan-tangan kecil milik swasta yang berdiri demi penguatan spiritualitas dan keagamaan bagi anak-anak TKI yang mustahil didapat dari sekolah Indonesia yang serba terbatas dari penjuru arah seperti yang dipapar di atas. Lagi-lagi, permasalahan yang sama. Soal gedung. Naif.

Sedangkan berpuluh-puluh organisasi masyarakat Indonesia di Jeddah, di antaranya Formida, PCINU Arab Saudi, Gerakan Pemuda Ansor, dan lain-lain di ranah pendidikan anak-anak BMI skala dan fokus perjuangannya masih kepada pengadaan infrastruktur yang layak. Belum mampu kepada manusianya.

Apalagi belakangan ini situasi sedang memanas dengan pro kontra perkara wacana pengiriman kembali TKI (unskill) ke Arab Saudi yang sebelumnya sudah ditutup dengan jargon "Ila yaumil qiyamah" dari Menaker, Hanif Dhakiri. Tentu konsentrasi ormas-ormas non-profit itu semakin terpecah.

Penulis juga belum mendapati dasar kuat penyebab berbondong-bondongnya ormas, masyarakat, dan pemerintah condong memprioritaskan pikiran mereka kepada proses pencarian atau pengadaan gedung sekolah Indonesia yang prosedurnya njlimet hingga 9 tahun tersebut. Ditambah perihal baru soal gedung MIJ. Maukah pemerintah urun berpikir ekstra? Cuma nanya.

Dan ormas-ormas lainnya lagi lebih ke abai karena hanya berfokus pada penuntasan masalah-masalah yang dihadapi TKI. Segelintir yang untuk upaya preventif atau pencegahan di bidang tersebut. Padahal, bicara soal TKI terkait erat dengan soal anak-anak TKI.

Mengapa beberapa unsur (KJRI, ormas, masyarakat) itu tak saling bekerja sama dan berbagi peran sehingga pemberdayaan anak-anak muda Indonesia bisa segera diupayakan.

Apakah SDM dari 13.538 TKI di Arab Saudi (data: MRC, 2016) sangat tidak memadai? Belum saling punya kemauan? Jangan-jangan ada ketidak akuratan massal soal cara pandang mengenai pendidikan?

Mungkinkah ada miss management di masing-masing organisasi dan tubuh lainnya? Mustahil tumpulnya kepekaan dan ketidakberdayaan sosial masyarakat Indonesia di Jeddah menjadi faktor, kan?

Boleh penulis curiga karena tipisnya harapan terhadap pemerintah? Sehingga mewajibkan seluruh kekuatan ormas dan masyarakat dikerahkan cuma di satu titik. Gedung. Dan lupa bertanggung jawab pada hal liyan? Cuma curiga.

Beragam pertanyaan dan asumsi semacam itu akan terus beranak-pinak. Berjejer-jejer. Tak nampak hulu dan hilirnya. Tak ada ujungnya sampai nampak keseriusan ke-'Kerja Bersama'-an dari setiap elemen. Dan penulis tak berniat melanjutkan.

Sangat tidak perlu juga bagi penulis bertanya siapa dalam keadaan se-rentan ini yang harus berperan, terjun sebagai ujung tombak dalam mengayomi, menfasilitasi, memantau, menemani tiap proses, men-stimulus gairah berkarya, memancing adrenalin, mengasah dan 'menumbuh'kan daya berpikir kritis dan kreatif, menemukan bakat sekaligus potensi, membangkitkan semangat, mengapresiasi kemampuan, sahabat gotong royong, menambah khazanah ilmu-ilmu kehidupan dan ke-Indonesiaan dan lain-lain kepada anak-anak bangsa di Arab Saudi.

Sebab sangat jelas. Dan amat kontras. Juga satu-satunya jawaban real yang terbaik yang pernah kami temukan.

Nikmatnya, dengan fakta ini kelak kami tak perlu lagi mengemban pusing, merasa bertanggung jawab dan berhak melotot, mendelik, bersikap cuek, ketika ditanya soal dedikasi kepada masyarakat sekitar, terhadap WNI di Arab Saudi apalagi kepada bangsa dan negara.

Karena segala apa-apa yang kami perjuangkan demi pertumbuhan menjadi generasi bermartabat, penggenggam nilai, pembangun peradaban yang lebih maju dan beradab, sebagai generasi-generasi yang kokoh, tajam intuisi, kuat jiwa militansi, sigap tertindas, dan tak haus puja-puji. Dari perangkat, lahan, ruang, visi, misi, hingga soal soliditas dan kesehatan lingkungan, seluruhnya, kami kerjakan sendiri.

Dan kami jauh lebih beruntung!


Penulis :
Hariri Thohir
Sekretaris Pimpinan Cabang Khusus
Gerakan Pemuda Ansor Arab Saudi
(RED, 10/11)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
ATC Cargo
psstki