Berita > Seputar TKI
Pulang dari Taiwan Tulang Belakang Bengkok, TKI asal Ponorogo Malah Disuruh Bayar Denda
10 Oct 2017 22:28:54 WIB | Figo Kurniawan | dibaca 2622
Ket: Rista (kanan) bersama Nani ketika menandatangani surat kuasa
Foto: Nani
Nasional, LiputanBMI - Ibarat pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga. Begitulah nasib yang dialami Rista Andaruni (25), TKI asal Kelurahan Setono, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur yang memutuskan pulang dari Taiwan pada 13 Juni 2017 lalu karena tidak tahan merasakan sakit di punggungnya.

Keputusannya untuk pulang ke tanah air dengan biaya sendiri ternyata bukan akhir dari penderitaaan yang ia rasakan. Ketika mendatangi PT yang memberangkatkannya untuk menanyakan klaim asuransi, Rista malah disuruh membayar denda sebagai pengganti biaya proses karena pulang sebelum habis kontrak.

Menurut keterangan Rista dalam surat aduannya ke Dewan Pimpinan Wilayah Serikat Buruh Migran Indonesia (DPW SBMI) Jawa Timur, ia memutuskan pulang dari Taiwan setelah berkali-kali menghubungi agency untuk mengajukan permintaan pindah majikan tidak berhasil karena majikannya tidak mau tanda tangan.

Padahal, ia sudah tidak tahan merasakan nyeri di punggungnya karena tiap hari harus mengangkat/menggendong orang tua (lansia) yang dirawatnya. Bahkan, ketika diperiksakan ke dokter, posisi tulang belakangnya ternyata bengkok.

Anehnya, kata Rista, ketika ia menanyakan klaim asuransi, pihak PT mengatakan bahwa asuransinya tidak bisa diurus karena tidak ada bukti tertulis.

“Padahal semua bukti rekam medis dan kuitansi sudah saya serahkan ke PT, malah saya disuruh bayar denda,” kata Rista dalam surat aduannya.

Tidak terima dengan perlakuan PT, Rista mengadu ke DPW SBMI Jawa Timur untuk meminta pendampingan.

“Kami sudah mendatangi PT yang memberangkatkan Rista, Selasa (10/10) siang tadi. Dalam negosiasi awal, pihak PT berjanji akan memenuhi tuntutan yang kami ajukan, tetapi minta waktu beberapa hari,” kata Ketua DPW SBMI Jawa Timur, Nani Purwaningsih ketika dikonfirmasi LiputanBMI, Selasa (10/10) malam.

Sebelumnya, lanjut Nani, selain disuruh membayar denda, dokumen Rista seperti paspor, surat nikah, akte kelahiran, ijazah, dan Kartu Peserta Asuransi (KPA) juga ditahan PT.

“Kami menuntut pihak PT untuk membebaskan Rista dari keharusan membayar denda karena dia pulang dalam keadaan sakit. Selain itu, kami juga menuntut pengembalian dokumen dan klaim asuransi. Jika PT tidak mau memenuhi tuntutan, kami akan laporkan ke BNP2TKI,” ungkap Nani.

Menurut pengakuan Rista, ia berangakat ke Taiwan pada bulan Mei 2017 melalui PT. Tulus Widodo Putra dan dipekerjakan pada seorang majikan di kawasan Taipei dengan job merawat akong (lansia laki-laki).

“Saya bingung ketika pihak PT mengatakan harus membayar denda, sedangkn kondisi saya saat ini masih harus rutin periksa ke dokter. Bahkan, kata dokter tulang belakang saya yang bengkok harus dioperasi,” ujar Rista.


(FK, 10/10)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
ATC Cargo
psstki