Berita > Ekosospol
Tuntut Kenaikan Gaji, PRT Asing di Hong Kong Lakukan Demo
05 Sep 2017 11:29:59 WIB | Yully Agyl | dibaca 765
Ket: Para PRT Asing di Hong Kong melakukan aksi demo
Foto: HKEJ
Hongkong, LiputanBMI - Ratusan pekerja rumah tangga asing turun ke jalan pada hari Minggu (3/9), menuntut kenaikan upah minimum dan tunjangan makanan saat pemerintah akan mengumumkan keputusan tahunan mengenai masalah tersebut.

Sebagaimana dilansir HKEJ, Senin (4/9/1017), aksi tersebut dipimpin oleh Badan Koordinasi Migran Asia (the Asian Migrants’ Coordinating Body / AMCB). Mereka berbaris dari Exchange Square di Central menuju markas besar Departemen Tenaga Kerja di Sheung Wan untuk menyampaikan tuntutan mereka.

Sebuah petisi diajukan ke depnaker. Mereka mengatakan upah minimum harus dinaikkan sebesar 28 persen menjadi HKD 5.500, dari HKD 4.310 saat ini, dan tunjangan makanan sebesar 60 persen menjadi HKD 2.500.

Hal tersebut juga diharapkan tercantum dalam kontrak kerja mereka. Jika makanan disediakan oleh majikan, harus cukup bergizi dan memadai.

Menurut juru bicara AMCB, Eman Villanueva, mereka memutuskan untuk melakukan aksi massa tersebut setelah media melaporkan bahwa daratan China sedang mempertimbangkan untuk mengizinkan pekerja rumah tangga Filipina bekerja di lima kota, termasuk Beijing, Shanghai dan Xiamen.

Seorang pekerja asing yang saat ini bekerja di Shanghai sebagai pekerja rumah tangga dapat memperoleh penghasilan sebesar HKD 8.000 per bulan. Ini menunjukkan bahwa mereka yang bekerja di Hong Kong menerima gaji lebih sedikit.

Jika daratan China membuka pasarnya, Hong Kong akan kehilangan daya tarik terhadap pekerja rumah tangga asing, yang kemungkinannya mereka akan mencoba melintasi perbatasan untuk mendapatkan gaji yang lebih baik, walaupun mereka mungkin menyukai Hong Kong.

Villanueva mencatat bahwa pemerintah Hong Kong hanya menaikkan gaji pekerja asing kurang dari 5 persen dalam beberapa tahun terakhir. Sebuah langkah yang jauh lebih lambat daripada tingkat inflasi.

Ketika ditanya mengapa AMCB menuntut tarif per jam HKD 40,2 dan bukan HKD 34,5, yang merupakan tingkat minimum, Villanueva mengatakan bahwa hal tersebut tidak masuk akal.
Selain itu banyak pekerja asing mengeluhkan mereka tidak diberi makanan yang cukup oleh majikan, memaksa mereka untuk menahan rasa lapar atau membeli makanan sendiri.

Sementara itu, Betty Yung Ma Shan-yee, yang memimpin the Hong Kong Employers of Overseas Domestic Helpers Association, mengatakan Departemen Tenaga Kerja telah menyatakan bahwa berita tentang China yang berencana mengimpor pekerja Filipina tidak benar.

Yung juga menekankan Hong Kong menawarkan gaji yang lebih baik untuk pekerja rumah tangga asing daripada negara tetangga seperti Singapura dan Taiwan, di mana upah sekitar HKD 3.000 per bulan.

Selain itu, Hong Kong menawarkan pelatihan kepada orang asing yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga untuk pertama kalinya dan upah minimum saat ini adalah HKD 4.310.
(YLA, 05/09)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
ATC Cargo
psstki