Berita > Cerpen Puisi
Aku Ikhlas Merawat dan Menyayangi Bayi Istri Muda Suamiku
23 Aug 2017 01:51:39 WIB | Jafry Aljawad | dibaca 7230
Ket: Perawat menggendong bayi (ilustrasi)
Foto: Google
Sukabumi, LiputanBMI - Musibah yang menimpa keluargaku membuat aku terpaksa menjadi TKI walaupun suamiku mengijinkan dengan berat hati. Sebagai anak pertama aku harus menolong orang tua yang terhimpit masalah yang menderanya. Jika tidak berbuat maka orang tuaku harus meninggalkan rumah yang sudah ditempati sejak aku masih kecil.

Suamiku mengijinkan dengan syarat aku bekerja cuma dua tahun atau setelah selesai kontrak harus pulang. Aku menyanggupi syarat itu karena menurut perhitunganku selama dua tahun itu aku sudah bisa membebaskan orang tuaku dari masalah yang menderanya.

Selama bekerja di Saudi aku tak pernah mengirim uang kepada suamiku karena kalau sekedar untuk makan dan kebutuhan sehari-sehari ada. Kebetulan suamiku bekerja sebagai tukang bangunan yang sering diajak kerja di proyek atau di perumahan. Kepergianku menjadi TKW semata-mata ingin menolong orang tua, karena untuk membantu tunai langsung tidak bisa.

Manusia berusaha Tuhan yang menentukan

Sebelum kontrak berakhir aku sudah bilang kepada majikan bahwa aku mau pulang tapi ada saja alasan dari majikan yang membuat kepulanganku terhambat. Saat itu majikan beralasan ingin mencari penggantiku dulu, tapi nyatanya tidak ada karena pengiriman TKW sudah ditutup.

Aku bertanya lagi kepada majikan, majikan meminta aku bersabar dulu sampai istrinya melahirkan dengan imbalan memberiku hadiah, menambah gaji, memberikan uang tiket dan biaya ibadah haji.

Berkali-kali suamiku telpon menanyakan mengapa sudah selesai kontrak dan himpitan masalah orang tuaku sudah terselesaikan aku tidak pulang. Aku mencoba menjelaskan masalah dengan sebenarnya bukan mencari-cari alasan pembenaran. Akupun sebetulnya sudah ingin pulang aku sudah rindu anak dan suami juga.

Menjelang tahun ketiga ternyata aku belum bisa pulang juga karena aku belum ada gantinya. Suatu hari aku dapat SMS dari suamiku :

“Nyai, sungguh kutahu bahwa engkau istri yang setia dan berakhlak mulia. Selama sekian tahun kita membina rumah tangga tidak nampak di mataku engkau ada cacat dan cela. Hanya karena karena ingin menolong orang tua terpaksa Nyai tinggalkan Akang”.

“Nyai, sudah hampir tiga tahun Akang menunggu, tapi Nyai belum pulang juga. Bukan Akang tak cinta, bukan pula Akang tega pada Nyai, tapi dari pada Akang jatuh ke lumpur dosa dengan berbuat zina maka Akang memutuskan menikah lagi. Ridlo tidak ridlo yang jelas Akang sudah menikah”.

“Nyai, masalah rumah tangga kita, nanti kita selesaikan secara baik-baik jika Nyai pulang. Jika tidak terima Akang menikah lagi silakan Nyai gugat ke Pengadilan Agama, keputusam apapun akan Akang terima. Tapi di lubuk Akang yang paling dalam tak terlintas sedikitpun niat untuk menceraikan Nyai. Nyai masih wanita terbaik di mata Akang”.

Membaca SMS itu aku tak membalasnya, hanya tetesan air membasahi pipiku. Aku mencoba tabah dan tegar menghadapi semua ini. Sekali-kali aku menelpon orang tuaku, dia mencoba menghibur dan memintaku untuk selalu berdoa dan tabah menjalani ujian ini.

*********

Pada musim haji aku disuruh berangkat dengan biaya ditanggung majikan sesuai yang dijanjikan. Saat di tempat mustajab yakni di depan ka’bah aku berdoa kepada Allah dengan khusyu’ menyerahkan segala hidup dan matiku kepadaNya.

“Ya Allah, aku mohon ampun di tempatMu yang mulia ini. Ya Allah aku mengakui tidak bisa menjalankan kewajibanku sebagai istri dan ibu rumah tangga yang baik. Ya Allah jika baik untukku dan agamaku, maka persatukan aku dengan suami dan anak-anakku setelah aku pulang nanti, namun jika tidak ada kebaikan buatku dan agamaku pisahklanlah kami baik-baik ya Allah”.

Setelah tiga tahun tiga bulan aku benar-benar akan dipulangkan oleh majikan. Aku memberi kabar kepada orang tua dan suamiku. Aku minta dijemput di bandara Soekarno-Hatta dengan membawa kedua anak laki-lakiku.

Pada hari yang telah ditentukan aku pulang ternyata suamiku tidak ikut menjemputku ke bandara, yang ikut hanya orang tua, adik dan kedua anakku. Dalam perjalanan pulang tanpa aku bertanya orang tuaku menjelaskan kenapa suamiku tidak ikut menjemput.

“Nyai, sebetulnya suamimu akan menjemput juga”, kata orang tuaku.

“Lalu, kenapa nggak jadi ikut Pak?”, tanyaku.

“Pagi-pagi suamimu telpon kalau istri mudanya melahirkan dan anaknya perempuan. Suamimu bilang istri mudanya kondisinya mengkhawatirkan karena terjadi pendarahan hebat”, jawab orang tuaku seraya memintaku ngobrol yang lain saja.

***********

Karena aku belum diceraikan suami, maka aku memutuskan untuk pulang ke rumahku, apalagi selama ini suamiku tinggal di rumah istri mudanya . Sore menjelang malam saat baru dua jam aku sampai di rumah, suamiku telpon kepada orang tuaku dan ingin bicara penting dan serius padaku.

Dalam percakapan telpon itu suamiku menangis menceritakan bahwa istri mudanya kondisinya sangat mengkhawatirkan. Istri mudanya ingin ketemu aku yang terakhir, ingin meminta maaf dan memberikan titipan padaku. Suamiku mengiba kepadaku agar aku mau datang ke rumah istri mudanya dengan alasan kemanusiaan. Suamiku menakut-nakuti bahwa aku akan menyesal seumur hidup jika sesuatu terjadi pada istri mudanya dan aku tidak datang ke sana.

Dalam situasi demikian aku meminta pendapat kepada orang tuaku yang kebetulan masih di rumahku.

“Sudah, datang saja Nyai, tunjukkan kamu anak bapak yang baik dan taat pada suami. Hilangkan perasaan macam-macam dalam pikiranmu, ini kondisinya kritis. Kalau Nyai mau ke sana Bapak akan menemanimu”, jawab orang tuaku.

Dengan berat hati dan berat langkah aku menuruti kata-kata suamiku untuk datang ke rumah maduku ditemani orang tua dan kedua anakku. Sementara kedua adikku menunggu rumahku.

Walaupun aku rindu dengan suamiku yang tiga tahun lebih kutinggalkan, namun saat masuk ke rumah maduku itu mata dan pikiranku tertuju pada bayi mungil perempuan dan seorang wanita yang tergolek lemas dan pucat tidak berdaya.

Setelah aku menyalaminya dan dia mencium tanganku, dengan suara lemah dan terbata-bata wanita itu berkata :

“Teteh, saya minta maaf. Saya tidak bermaksud merebut suami Teteh, saya dinikahi Akang baik-baik tidak berzina”.

Sebelum aku mengatakan sesuatu dan masih menahan nafas wanita yang juga maduku itu berkata lagi :

“Teteh sebentar lagi saya akan kembali ke hadirat Ilahi, tolong rawat baik-baik anak saya yang juga anak Akang ini. Sayangi dan kasihi bayi ini seperti anak kandung Teteh sendiri”.

Setelah mengatakan demikian ada perubahan ekspresi di wajah terutama di mata dan mulut maduku itu ia seperti mengisyaratkan minta dituntun sesuatu. Suamiku yang ada di samping kanan menuntun maduku yang dalam kondisi sakaratul maut itu untuk mengucapkan tahlil yakni kalimat Lailaha ilallah.

Laa..ilaha...ilallah...terdengar suara pelan sekaligus hembusan nafas yang terkahir dari wanita itu. Bersamaan dengan itu tiba-tiba bayi mungil yang ada di samping maduku itu tiba-tiba menangis seakan-akan menangisi kepergian ibunya menghadap Allah Sang Pencipta alam semesta.

Suasana malam itu benar-benar diliputi kesedihan, semua yang ada dalam rumah itu menangis. Orang tua almarhum maduku menangis histeris. Suamiku juga tak kuasa meneteskan air mata, bahkan kedua anakku ikut menangis melihat kematian ibu tirinya. Aku yang sejak awal mencoba untuk tegar akhirnya larut juga, sambil mengendong bayi mungil itu tak kuasa mataku basah dengan air mata.

**********

Sesuai permintaan terakhir dari maduku, aku menerima wasiatnya untuk merawat, mengasihi dan menyayangi bayi itu bagai darah dagingku sendiri. Keputusanku itu didukung sepenuhnya oleh orang tua dan kedua anakku serta adikku, apalagi aku belum punya anak perempuan.

Namun demikian, sekalipun aku menerima permintaan dari maduku itu aku meminta syarat kepada suamiku. Syarat yang kuminta adalah agar aku yang memberi nama bayi itu dan suamiku mengijinkan.

Nama itu akan kuberikan saat hari ketujuh kelahiran bayi itu sekaligus syukuran kepulangan dari Arab Saudi. Aku ikhlas merawat dan mengasuh bayi dari almarhum istri muda suamiku.

(JWD, 23/08)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
ATC Cargo
psstki