Berita > Seputar TKI
TKI di Singapura, Dipenjara karena Rampok Majikan
27 Jul 2017 13:36:20 WIB | Yully Agyl | dibaca 2125
Ket: Ilustrasi
Foto: Google
Singapura, LiputanBMI - Seorang TKI mengancam akan membunuh majikannya yang terbaring di tempat tidur jika dia tidak mengatakan nomor PIN kartu ATM DBS kepadanya.

Dalam sebuah pengadilan distrik, Rabu (26/7), uraian kejadian perkara disampaikan, bahwa TKI yang diketahui bernama Eko Alviah (30), mengarahkan gunting ke leher majikannya, Chew Seng Mun (60) dan juga mengancam akan memotong putingnya saat dia meminta nomer PIN.

Peristiwa itu terjadi pada 23 September 2016, di flat kediaman korban di Woodlands, Singapura. Korban akhirnya memberikan nomor PIN palsu.

Pelaku kemudian mengikat tangan dan menutup mulut korban dengan lakban agar tidak berteriak minta tolong. Dia tahu bahwa Chew, yang menderita penyakit Parkinson dan hanya bisa bergerak perlahan, masih bisa berteriak minta tolong.

Seperti dilansir The Straits Time, Rabu (26/7), wakil jaksa agung, Jaime Pang, mengatakan, tersangka telah bekerja selama sekitar satu tahun pada saat kejadian. Dia memaksa membuka laci di kamar tidur utama yang berisi paspornya.

Ketika menemukan sebuah kotak di dalam laci dengan 25 buah perhiasan seharga $ 2.648, dia mengambilnya juga beserta paspor.

Selain itu juga mencuri $ 100 yang ada di meja ruang tamu sebelum meninggalkan flat.

Kemudian, pelaku pergi ke Woodlands North Plaza dan mencoba menarik uang dari ATM menggunakan kartu ATM Chew. Tetapi gagal. Dia lalu naik feri ke Batam, Indonesia dan menjual perhiasan curian itu seharga sekitar $ 140.

Sementara itu, anak laki-laki Chew menemukan ayahnya disekap dan diikat setelah membuka pintu kamar tidur dengan kunci cadangan. Chew meninggal pada 30 Desember 2016.

Menurut wakil jaksa agung, Pang, tersangka tinggal di Indonesia selama tujuh bulan. Pada bulan April 2017, dia mengajukan paspor baru dan membuat rencana untuk bekerja di Singapura.

Dia dipersulit di imigrasi ketika dia mencoba kembali ke Singapura pada 9 Mei, akhirnya ditangkap.

Investigasi selanjutnya mengungkapkan bahwa pelaku telah mencuri $ 700 dari dompet Chew sekitar bulan Desember 2015. Saat itu, Chew memintanya untuk menghitung uang di dompet, dia mengatakan kepada Chew ada $ 1.300, bukan jumlah sebenarnya $ 2.000, karena dia bermaksud mencuri $ 700.

Uang curian tersebut dihabiskan uang untuk membeli telepon genggam dan barang-barang pribadi lainnya.

Pelaku mengaku bersalah atas tiga tuduhan. Dia divonis penjara empat tahun karena perampokan, enam bulan untuk intimidasi kriminal, dan dua bulan untuk pencurian.

Hakim Distrik Chay Yuen Fatt menetapkan total hukuman 50 bulan dan juga memberlakukan penjara 12 minggu tambahan sebagai ganti hukuman cambuk.

Selain itu, TKI tersebut juga memiliki empat tuduhan lain yang masih dipertimbangkan. Dia bisa dipenjara sampai 10 tahun karena perampokan, namun terhindar dari enam pukulan karena dia tidak bisa dicambuk.

Juga bisa saja dijatuhi hukuman tujuh tahun atau lebih karena intimidasi kriminal dan untuk pencurian tujuh tahun dan juga denda.
(YLA, 27/07)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
ATC Cargo
psstki