Berita > Cerpen Puisi
Separuh Jiwa yang Datang Kembali
15 Jul 2017 00:54:43 WIB | Iyad Wirayuda | dibaca 1345
Ket: ilustrasi
Foto: google
Jeddah, LiputanBMI - Di sebuah kamar ICU, Khaled tak hentinya memegang erat tangan Abdullah yang terbaring lemas. Pengusaha muda itu menunjukan bakti dan cintanya dengan selalu mendampingi sang ayah selama dirawat di rumah sakit.

Sang ayah yang sudah tua renta itu hanya bisa memandang anak semata wayangnya dengan mata sayup.

“Nak, jika ayah sudah tiada, jaga dirimu baik-baik,” ucap Abdullah.

Mendengar itu, Khaled merasa bahwa sang ayah tak lama lagi akan pergi untuk selama-lamanya. Deraian air matanya semakin deras mengalir sambil menggenggam erat tangan ayahnya.

“Nak, temui ibumu, ibumu,” serunya lirih.

Khaled cukup kaget, karena selama ini dia belum pernah tahu sosok wanita yang melahirkannya.

“Di mana ibu, di mana ibu.” Khaled terisak.

Abdullah pun kemudian memberikan sebuah map berisikan alamat dan poto seorang wanita.

“Ibumu, dia ibumu ada di Indonesia,” ucapan terakhir Abdullah sebelum menghembuskan napas terakhirnya.

“Ayah…ayah…ayah…,” teriak Khaled memanggil ayahnya yang sudah tak bernyawa.

Selama ini Khaled memang dibesarkan sendiri oleh ayahnya, setiap dia menanyakan ibunya, Abdullah selalu mengatakan bahwa ibunya sudah meninggal.

Di usianya ke-30, Khaled terbilang pemuda sukses menjalankan usaha ayahnya. Meski tumbuh tanpa kasih sayang sang ibu, Khaled adalah pemuda yang baik hati dan sopan. Berbeda dengan pemuda lainnya, kesehariannya selalu diisi dengan rutinitas pekerjaan dan hal positif.

Seminggu setelah sang ayah dikebumikan, Khaled pun terbang ke Indonesia untuk mencari wanita yang telah mengandungnya selama 9 bulan. Selama duduk di dalam pesawat, Khaled selalu memandang poto yang diberikan ayahnya, dia tidak menyangka bahwa ibu kandungnya masih hidup dan berada di Indonesia.

Ibunya bernama Wartini asal Sukabumi, dia sempat bekerja di Arab Saudi sebagai pekerja rumah tangga. Sejak jadi TKW itulah Wartini bertemu dan menjalin asmara dengan Abdullah. Namun hubungan Abdullah dan Wartini tidak direstui orang tua Abdullah.

Karena cinta mereka begitu kuat, Abdullah yang masih lajang itu nekat menjalin hubungan terlarang hingga akhirnya Wartini hamil dan melahirkan seorang bayi laki-laki. Namun setelah bayi itu berumur 9 bulan, Wartini dipulangkan tanpa diizinkan membawa bayinya.

Sejak perpisahan itu balk Abdullah dan Wartini tidak pernah menikah lagi sampai akhirnya bayi kecil itu tumbuh menjadi remaja yang tampan.

Setelah tiba di Indonesia, dengan berbekal alamat yang diberikan ayahnya, Khaled lantas lansung mencari alamat rumah ibunya. Untuk tiba di tempat kediaman ibunya, Khaled harus menempuh jalan pedesaan dan pegunungan yang begitu jauh dan melelahkan.

Hingga akhirnya ia tiba di tempat yang dituju, Khaled diantar Kepala Desa dan RT setempat mendatangi rumah ibunya.

“Assalamulaikum, Bu Wartini…Bu ini ada orang arab yang mencari Ibu,” sapa Pak Andi Kepala Desa sambil mengetuk pintu.

“Waalaikumsallam, iya Pak Lurah,” jawab seseorang di dalam rumah.

Pintu itu pun perlahan terbuka, Khaled hanya diam terpaku melihat sosok perempuan di depannya.

“Ini adalah Bu Wartini yang kamu cari,” ujar Pak Andi memperkenalkan seorang wanita tua kepada Khaled.

“Ini siapa Pak Lurah,” timpal Wartini heran.

Khaled masih diam terpaku memandang menahan butiran air mata yang hampir menetes. Bibirnya kemudian berucap terbata, “Saya Khaled.”

“Khaled siapa” jawab Wartini.

Khaled pun langsung meraih tangan Wartini dan menciumnya hingga bersimpuh dan menangis.

“Saya Khaled anakamu Bu, saya anaknya Abdullah,” bergetar bibir Khaled mempekenalkan jati dirinya.

Mendengar pengakuan itu, Wartini pun akhirnya langsung berurai air mata. Apalagi disebutkan nama Abdullah laki-laki yang dicintai selama akhir hayatnya.

“Anakku, anakku…….” Wartini merangkul dan langsung memeluk erat Khaled.

Suasana pun menjadi haru pertemuan seorang Ibu dan anak yang berpisah selama puluhan tahun.

Cerita ini hanyalah fiktif belaka.
(IYD, 15/07)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
ATC Cargo
psstki