Berita > Cerpen Puisi
Air mata Rindu Saidah
13 Jun 2017 09:38:11 WIB | Iyad Wirayuda | dibaca 2175
Ket: Ibu Saidah di shelter KJRI Jeddah
Foto: KJRI Jeddah

Jeddah, LiputanBMI - Sore itu Saidah hanya bisa termenung
Kumandang Adzan Magrib terbangkan angannya dalam lamunan
Teringat ia akan indah permai desa...
Terbayang kilas wajah ketiga putrinya yang dulu ia tinggalkan

Puluhan tahun, ia pendam rindu dalam derai air mata
Tak pernah ada yang mendengar tangis pilunya
Tak ada yang tau tentang jerit hatinya

Keriput wajahnya adalah saksi perjuangan ...
Rambutnya yang bertabur uban adalah bukti betapa berat beban hidup yang ia pikul
meski semangatnya tak pernah tumpul

Air matanya sudah kering, terkikis tangis dalam dekap duka lara yang mengiris-iris
Saidah hanya ingin keadilan
Keadilan dan hak yang tidak pernah ia dapat selama puluhan tahun
selama ia tetimpuk derita berjibun-jibun

Saidah hanya ingin secuil kebahagiaan
Kebahagiaan yang hilang tergerus waktu
kebahagiaan yang sekian lama hanya ada dalam angan

Pandangan Saidah masih kosong;

Secangkir air putih, ia raih
Tegukkan itu pun sudah mengenyangkan perutnya

Saidah pun beranjak mengambil air wudhu
Dalam sujud ia pasrahkan diri
Dengan do'a ia bermunajat mengantungkan segala harapan

Ya Allah, Ya Robbi....
Lindungi saudara-saudara kami yang bekerja di luar negeri
Jadikan setiap peluhnya sebagai catatan amal
Perjuangannya adalah gemuruh jihad
Maka setiap sabarnya jadikan sebagai penghapus dosa

(IYD/FK)
(IYD, 13/06)

PBBC Liputan BMI
Universitas Terbuka Riyadh