Berita > Seputar TKI
Puluhan Calon ABK Merasa Dirugikan PT Setelah Dijanjikan Kerja di New Zealand
04 Mar 2017 01:19:38 WIB | Syafii | dibaca 3480
Ket: Para Pelaut saat mengadu ke Kantor PPI
Foto: LBMIJKT

Nasional, LiputanBMI - Pergerakan Pelaut Indonesia (PPI) kembali menerima pengaduan dari puluhan pelaut yang mengaku dirugikan oleh PT. FBT yang berdomisili di Tanjung Priok, Jakarta terkait permasalahan tawaran berangkat ke New Zealand untuk menjadi Anak Buah Kapal (ABK) di atas kapal penangkap ikan jenis Trawl.

Mereka mengaku dimintai sejumlah uang untuk biaya administrasi dan tes kesehatan yang besarnya bervariasi dari mulai Rp 5 juta hingga 25 juta perorang.

“Tanggal 11 November 2016 saya ditawari Job jadi ABK di kapal Trawl ke New Zealand, untuk proses saya disuruh oleh PT bayar 20 juta rupiah dan tiga juta rupiah lagi untuk biaya tes kesehatan di RS Premier di kawasan Jatinegara,” ujar salah satu calon ABK di kantor PPI, Kamis (2/3/2017) malam.

Mereka (para calon ABK Red.) menyatakan bahwa sejak membayar biaya tersebut pihak perusahaan selalu menjanjikan akan memberangkatkan, namun hingga detik ini hal tersebut tidak terealisasi.

Akhirnya, mereka memutuskan untuk mengambil semua dokumen kepelautan yang diserahkan dan meminta biaya yang sudah diserahkan ke perusahaan agar dikembalikan.

“Tanggal 2 Maret 2017, kami datangi perusahaan dan berniat untuk ambil dokumen sekaligus meminta kembali semua uang yang sudah kami serahkan itu, namun perusahaan tidak memberikan dan beralasan bahwa nama-nama kami sudah tertera di Job Canada,” ungkap mereka.

Menanggapi pengaduan tersebut, Sekretaris Jenderal PPI, Asep Arisandi menyatakan bahwa PPI langsung menindaklanjutinya dengan mendatangi perusahaan tersebut pada hari Jumat (3/3/2017) siang tadi, namun pimpinan perusahaan tidak berada di kantor dan hanya ditemui oleh stafnya.

“Kami sudah datangi kantornya dan pimpinan PT sedang keluar, dihubungi via telepon beberapa kali tidak dijawab,” paparnya.

PPI berencana untuk menyurati dan kembali mendatangi perusahaan untuk mengklarifikasi pengaduan dari para ABK tersebut.

“Niat kami datangi PT itu baik, mau membantu menyelesaikan permasalahan ini. Jika perusahaan tidak kooperatif, ya kami akan tempuh jalur hukum baik pidana maupun perdata, mengingat kami sudah diberi kuasa oleh para ABK,” tegasnya.

Para ABK yang diketahui berasal dari Cirebon, Tegal, pemalang, DIY, dan Lampung berharap PPI dapat membantu permasalahan mereka.

“Intinya kami mau uang dan dokumen kami dikembalikan oleh perusahaan, karena sudah terlalu lama kami dijanjikan tapi tidak terealisasi,” pungkas para ABK.


(IS, 04/03)

PBBC Liputan BMI
Universitas Terbuka Riyadh