Berita > Opini
Bagaimana Seorang BMI Mampu Menjadi Cerdas?
06 Feb 2017 16:47:59 WIB | A Hadi Akram | dibaca 1845
Ket: ilustrasi
Foto: Google

Sukabumi, LiputanBMI - Istilah pahlawan devisa adalah sebuah nama yang disematkan oleh pemerintah kepada buruh migran. Tak terlepas kata dan julukan ini benar ataupun tidak keabsahannya, serta semenjak kapan nama tersebut disematkan? Namun, predikat pahlawan devisa (baca: buruh migran) seolah sudah menjadi kebenaran publik dan menjadi tantangan tersendiri bagi penyandangnya.

Hemat Penulis, ada ataupun tidak ada standar indikator yang dipatok oleh pemerintah terhadap julukan ini, marilah kita menjadi buruh migran yang cerdas. Sehingga semua harapan dan tantangan mampu kita lalui dan hadapi dengan elegan.

Bagaimana agar kita menjadi seorang BMI yang cerdas?. Ada beberapa tips atau pelajaran yang diambil dari kisah perampokan di sebuah bank, agar seorang BMI menjadi cerdas.

Pertama: Seorang BMI harus berani merubah cara berpikir (mind changing concept), yaitu merubah cara berpikir dari cara yang bisa menjadi cara yang kreatif. Sebagaimana perampok berteriak kepada semua orang di bank, “jangan bergerak! Uang ini semua milik negara. Hidup anda milik anda...” semua orang di bank kemudian tiarap.

Kedua: Seorang BMI harus bertindak profesional (being professional), yaitu fokus hanya pada pekerjaan sesuai prosedur yang diberikan. Sebagaimana salah satu nasabah yang seksi mencoba merayu perampok. Tetapi malah membuat perampok marah dan berteriak, “Yang sopan mbak! Ini perampokan bukan perkosaan.”

Ketiga: Seorang BMI harus mempunyai pengalaman (experience), seperti pepatah mengatakan “experience is the best teacher”. Karena pengalaman lebih penting daripada selembar kertas dari universitas, sebagaimana perampok lulusan SD bilang ke perampok bertitel MBA dari universitas terkenal, bang! kita bilang hasil rampokannya! Perampok bertitel MBA bilang ke temannya: “Dasar goblok, uang yang kita rampok banyak, repot menghitungnya. Kita tunggu saja berita di TV, pasti ada berita mengenai jumlah uang yang kita rampok”.

Keempat: Seorang BMI harus mampu mengubah situasi yang sulit menjadi keuntungan (swim with the tide). Sebagaimana si manajer bank berkata kepada seorang kepala cabang dalam sebuah insiden perampokan bank agar segera melapor ke polisi. Tapi kepala cabang berkata: “Tunggu dulu, kita ambil dulu 10 milyar untuk kita bagi dua, nanti totalnya kita laporkan sebagai uang yang dirampok.”

Kelima: Seorang BMI harus mampu menghilangkan kebosanan (killing boredom), sebagaimana kepala cabangnya berkata (dalam kasus perampokan di atas), “Alangkah indahnya jika terjadi perampokan tiap bulan.”

Keenam: Seorang BMI harus mempunyai pengetahuan, karena pengetahuan lebih berharga daripada emas (knowledge is worth as much as gold), sebagaimana keesokan harinya berita di TV melaporkan bahwa uang yang dirampok sebesar 15 milyar. Dan perampokpun setelah menghitung uang hasil rampokannya sangat murka dan berkata, “kita susah payah merampok cuma dapat 5 milyar, orang bank tanpa usaha dapat 10 milyar”. Lebih enak jadi perampok yang berpendidikan rupanya.

Ketujuh: Seorang BMI harus berani mengambil resiko (seizing opportunity), sebagaimana si kepala manajer dan kepala cabang tersenyum bahagia karena mendapat keuntungan dari perampokan yang dilakukan orang lain.

Perbuatan merampok tentu tidak baik dan melanggar hukum serta tidak boleh ditiru, namun cara pandang dan berpikir dari 7 tips di atas jika diimplementasikan dalam hidup kita, tak ayal akan menjadi BMI yang cerdas dan kompeten.

(Disadur dari berbagai sumber)
(HDI, 06/02)

BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
ATC Cargo
psstki