Berita > Opini
Penghentian Penempatan TKI PRT Hingga Yaumil Qiyamah Hanya Bohong Besar
27 Jan 2017 19:51:09 WIB | Tatang Muhtar | dibaca 11352
Ket: Seorang TKW bervisa ziyarah di depan KBRI menunggu dipulangkan
Foto: Portal Kita

Riyadh, LiputanBMI - Sebelum dikeluarkannya Keputusan Menteri Tenaga Kerja nomor 260 tahun 2015 tentang Penghentian dan Pelarangan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Pada Pengguna Perseorangan di Negara-negara Kawasan Timur Tengah, dalam berbagai kesempatan Menteri Hanif Dhakiri selalu berkampanye mengenai lemahnya perlindungan TKI PRT di Timur Tengah.

“Penempatan TKI PRT itu ya, tutup! Tutup ya tutup dilarang, dilarang gitu! Kalau misalnya di forum ini nanti ada yang tanya sampai kapan pak, jawaban saya tegas ilaa yaumil qiyamah. Itu biar klir!” tegas Hanif Dhakiri saat bicara di depan perwakilan komunitas dan tokoh masyarakat Indonesia di Riyadh, (25/5/2016).

Lihat videonya di sini:



Sengaja atau tidak, sadar atau tidak sadar kita telah dibohongi atau paling tidak dipermainkan dengan pemilihan kata dan istilah dalam Kepmenaker tersebut, sementara hakikat permasalahan dan praktik penempatan TKI PRT ke Timur Tengah tetap berjalan.

Jadi bohong besar jika PRT ke Timur Tengah ditutup, karena sesungguhnya yang ditutup adalah TKI pada pengguna persorangan! Kalau penggunanya bukan perseorangan alias berjamaah atau rame-rame ya masih terbuka! Sekalipun si TKI tersebut berprofesi atau dipekerjakan sebagai PRT.

Jika kita cek dalam teks Kepmenaker 260 tahun 2015 tidak terdapat kata atau kalimat PRT sama sekali, berbeda dengan yang didengungkan oleh Menaker. Sekali lagi, sejatinya memang yang ditutup adalah Tenaga Kerja Indonesia pada pengguna perseorangan bukan PRT!

Jadi kalau saat ini masih berdatangan para TKI PRT dengan modus visa ziarah ataupun visa formal, maka itu bukan Kepmenaker yang tidak diterapkan apalagi salah! Itu karena yang diberangkatkan adalah TKI PRT pada pengguna bukan perseorangan, alias rame-rame alias TKI PRT untuk direntalkan!

Inilah yang tidak disadari oleh Menaker, ada celah hukum yang dimanfaatkan oleh PPTKIS/PJTKI untuk terus menempatkan TKI PRT ke Timur Tengah asal tidak untuk pengguna perseorangan.

Akan tetapi, dalam hal ini kita juga tidak bisa menyalahkan PPTKIS yang begitu cerdik memanfaatkan kelemahan Kepmenaker 260/2015, karena sejatinya, proses penempatan TKI oleh PPTKIS adalah sebuah simbiosis mutualis.

Di satu sisi, PPTKIS ingin terus mendapat keuntungan dalam bisnisnya. Namun di sisi lain, impitan ekonomi dan terbatasnya kesempatan kerja di negeri sendiri membuat ribuan kaum miskin pedesaan nekat mempertaruhkan harga diri dan nyawanya, mengais rezeki di negeri orang.

Sudah menjadi rahasia umum, sejak moratorium tahun 2011 hingga penghentian total tahun 2015 bahkan hingga hari ini, penempatan TKI PRT ke Timur Tengah tetap berjalan dan jumlahnya sudah mencapai puluhan ribu.

Menurut informasi dari sumber terpercaya di lingkungan KBRI Riyadh, selama tahun 2016 setiap minggunya tidak kurang dari 1500 TKI PRT bervisa ziyarah masuk melalui bandara Riyadh, belum yang melalui Jeddah dan pintu masuk lainnya.

Apalagi jika ditambah dengan ribuan bahkan puluhan ribu TKI PRT ber-visa cleaning service pada puluhan perusahaan out sourcing setempat, hanya Tuhan yang tahu berapa jumlah sesunguhnya TKI PRT yang masuk ke Arab Saudi pada periode tahun 2011-2016.

Penempatan TKI PRT ke Timur Tengah yang akan ditutup hingga Yaumil Qiyamah hanya bohong besar! Sementara buruh dan Tenaga Kerja Asing yang bekerja di Indonesia merajalela, adalah fakta! Dosa siapa?

Penulis: Tatang Muhtar Cs.
(TTG, 27/01)

BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
ATC Cargo
psstki