Berita > Cerpen Puisi
Saat Mira Jatuh Cinta Dengan Anak Majikannya Yang Tampan
26 Jan 2017 20:05:06 WIB | Jafry Aljawad | dibaca 22665
Ket: Ilustrasi pasangan warga Saudi duduk berdua
Foto: Google

Riyadh, LiputanBMI - Mira, asisten rumah tangga asal Bogor sudah tujuh tahun bekerja pada satu keluarga warga Saudi di kota Riyadh. Di rumah besar itu cuma ada empat orang yakni sepasang kakek nenek dan seorang anak bungsunya yang bernama Khaled serta Mira sendiri. Ayah Khaled yang bernama Abdullah asli warga Saudi sementara ibunya berasal dari Libanon. Khaled baru lulus kuliah di King Saud University Riyadh tahun lalu dan kini bekerja di sebuah perusahaan swasta nasional.

Mira berangkat ke Saudi saat berumur 17 tahun setelah perkawinan muda yang baru dijalaninya selama setahun gagal karena suaminya menceraikan. Mira, masih trauma dengan masa lalunya maka setiap ada pria yang mencoba mendekatinya tak dianggapinya.

Karena Mira bekerja di rumah Baba Abdullah itu sejak Khaled masih duduk dibangku Tsanawi (SMA) maka Khaled dan Mira tidak canggung, lebih-lebih semua saudara Khaled tidak rumah Baba Abdullah karena sudah pada menikah. Khaled biasa berbicara, menyuruh atau minta sesuatu kepada Mira.

Suatu hari saat Khaled sedang bekerja dan Baba Abdullah sedang keluar rumah, Mira mengelap perabotan di ruang tamu. Di situ ada foto setengah badan Khaled menggunakan baju tsop dan ghutrah, Mira mengelap bingkai dan kaca foto itu sambil memandangnya. Dalam hatinya Mira berkata : "Dulu saat aku datang ke rumah ini, Khaled masih sekolah di SMA, sekarang sudah besar dan ganteng, kulitnya putih hidungnya mancung dan berkumis pula".

Selama Mira bekerja di rumah Baba Abdullah belum pernah diganggu Khaled dan saudara-saudaranya yang semuanya telah menikah. Khaled orangnya baik, sopan dan kadang suka memberi pulsa kepada Mira.

Pada hari libur di saat Baba Abdullah dan istrinya masih tidur Khaled pergi ke dapur minta dibuatkan the, sambil menunggu teh manis ia berkata kepada Mira :

"Mira, kamu kan sudah lama bekerja di rumah ayahku dan sudah seperti saudariku sendiri. Maukah kamu membuka kerudungmu agar aku bisa melihat hitam dan panjangnya rambutmu sebentar saja?".

Mendengar kata-kata itu Mira terkejut dan deg-degan hatinya lantas berkata :

"Tidak bisa, kamu bukan muhrimku, jika kamu macam-macam, aku akan berteriak biar Baba Abdullah bangun dan memarahi kamu".

Mendapat jawaban seperti itu Khaled berlalu dengan sedikit ada rasa malu. Di lain waktu saat Mira dalam mobil bersama Khaled ke rumah kakaknya yang baru melahirkan, Khaled menyatakan kesukaanya kepada Mira, namun Mira tak menanggapinya.

Selain berkata langsung kepada Mira, Khaled pun pernah menyatakan kesukaanya lewat telpon saat malam hari ketika Mira akan tidur.

"Tidak mungkin, kamu anak majikanku, aku cuma seorang pembantu. Kamu anak orang berada, aku anak orang tak punya. Kamu orang Saudi aku ajnabi (pendatang)", kata Mira kepada Khaled.

"Mira, apapun permintaanmu akan kupenuhi, asal kamu mau menjadi isteriku. Kamu orang baik, kamu jujur, kamu cantik dan sudah lama bekerja di rumah ayahku, jadi aku tahu pribadimu", kata Khaled.

Menurut rencana sebulan lagi Mira akan pulang ke Indonesia, lagi-lagi Khaled menyatakan kesukaanya pada Mira. Karena Khaled sering telpon Mira dan menyatakan cintanya, hati Mira lama-lama terbuai juga

"Kalau kamu memang suka padaku, kamu harus membuktikan. Datang ke Indonesia menghadap orang tuaku dan menikahiku di sana. Aku mau dibawa ke Saudi tapi harus dengan visa sebagai isteri bukan pembantu lagi", kata Mira.

"Oke, nggak masalah Mira, akan kuturuti apa maumu, tunggu saja, aku akan safar ke Indonesia", kata Khaled.

Dua hari menjelang Mira pulang semua anak-anak Baba Abdullah datang memberikan hadiah, ada yang berupa uang, pakaian dan perhiasan. Baba Abdullah memberi hadiah jam tangan bagus buat ayah Mira, sementara isteri Baba Abdullah memberi kalung untuk Mira dan sebuah cincin untuk ibunya.

Menurut jadwal penerbangan, Mira akan terbang malam hari pukul 00.15 WSA. Karena Baba Abdullah sudah tua maka Khaled yang disuruh mengantar Mira ke bandara. Selama dalam perjalanan Khaled dan Mira ngobrol panjang lebar. Saat parkir di terminal bandara Khaled memberi hadiah khusus berupa cincin kepada Mira dan di mobil itu pula Khaled memasukkan ke jari Mira. Dengan tatapan mata penuh cinta, Khaled mengantar Mira sampai ke depan ruang pemeriksaan imigrasi, Mira melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan.

Sesampai di kampung halamannya Mira langsung menelpon Khaled, demikian juga mengabari Baba Abdullah bahwa ia telah sampai dengan selamat berkat perlindungan Allah. Setelah Mira di Indonesia, Khaled terus menelpon menanyakan kabar dan mengulangi pernyataan cintanya kepada Mira.

Dua bulan kemudian Khaled benar-benar akan datang ke Indonesia. Mira diminta menjemput Khaled di bandara Soekarno-Hatta. Mira yang rumahnya di Citeureup, Bogor itu tentu saja mudah untuk pergi ke bandara dan tidak perlu waktu lama.

Melalui sebuah agen travel di Riyadh Khaled sudah membooking alias memesan kamar hotel di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur. Siang menjelang sore Khaled dan Mira sampai di hotel.
Kalau sewaktu di Saudi Mira dan Khaled malu-malu dan tidak bebas bicara, kini mereka bebas tiada jarak. Mira dan Khaled sebagai pasangan kekasih berbicara penuh canda tawa.
Waktu petang tiba, Mira pamitan mau pulang. Mira berjanji esok pagi akan datang lagi mengajak Khaled melihat pemandangan alam pegunungan yang indah berhawa sejuk di Puncak. Sorenya rencananya Khaled akan dibawa ke rumah Mira untuk dikenalkan kepada orang tuanya.

Pagi hari sekitar pukul 08.00 Mira sudah sampai di hotel menemui Khaled. Betapa terkesimanya hati Khaled saat melihat wajah Mira yang cantik. Di pagi yang cerah itu Mira tidak berkerudung, ia berkaca mata hitam, memakai celana jeans dengan kaos berwarna cream.

Setelah Khaled dan Mira sarapan, keduanya lantas berangkat ke puncak menggunakan jasa mobil travel yang disediakan pihak hotel. Pak sopir duduk di depan sendirian, sementara Khaled dan Mira duduk berdua di jok belakang berduaan. Khaled tidak memakai baju tsop ciri khas Saudi melainkan memakai celana jeans dan T-Shirt tak lupa berkaca mata hitam. Dalam hati Mira berkata ‘Khaled benar-benar tampan’.

Sesampainya di puncak, Mira dan Khaled ngobrol berdua di taman pada sebuah villa yang telah dipesan. Mira dan Khaled duduk berdekatan tiada jarak. Kepala Mira bersandar di dada khaled, rambut Mira dibelainya dengan mesra. Merasakan kehangatan dari Khaled anak bekas majikannya itu, mata Mira pelan-pelan terpejam.

Langit di pegunungan puncak siang itu diliputi mendung hitam dan mulai turun rintik-rintik hujan diiringi suara petir yang menggelegar Mirapun terkejut dan terbangun. Saat bangun mata Mira terbelalak penuh keheranan, ternyata Mira bukan berada di puncak, bukan pula tertidur di dada Khaled tapi masih di kamar rumah majikanya di Saudi. Rupanya Mira cuma berkhayal kemudian bermimpi.
-----------
**Kisah di atas fiktif belaka jika ada persamaan nama, tempat dan kejadian hanya kebetulan semata.
(JWD, 26/01)

BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
ATC Cargo
psstki