Berita > Opini
Setiap Kita adalah Babu dan Jongos
25 Jan 2017 13:44:28 WIB | Redaksi | dibaca 7377
Ket: SS Cuitan Wakil Ketya DPR RI Fahri Hamzah
Foto: LBMI

Jeddah, LiputanBMI - “Anak bangsa mengemis menjadi babu di negeri orang dan pekerja asing merajalela”. Begitu cuitan salah satu anggota DPR RI periode 2014-2019, Fahri Hamzah di akun twitternya kemarin yang menjadi viral.

Bila dicermati, terdapat dua premis pada statement yang ditanggapi langsung oleh Hanif Dhakiri selaku Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia (Menaker RI) dan berbagai kalangan pegiat TKI.

Pertama, anak bangsa mengemis menjadi babu di negeri orang. Premis kedua adalah pekerja asing merajalela. Premis awal menjadi sesuatu yang menarik bagi penulis dikarenakan penulis adalah anak dari salah satu TKI dan juga tumbuh besar di Arab Saudi.

Bagi penulis, tersulutnya emosi para Buruh Migran Indonesia (BMI) yang notabenenya adalah salah satu penyumbang utama devisa negara terhadap pernyataan tersebut adalah sebuah kewajaran. Penggunaan kata babu yang dipilih Fahri Hamzah amat terkesan feodalistik dan mendiskriminasi.

Kesan memanglah relatif, tafsir penulis tidaklah absolut. Namun timing atau waktu, nuansa dan kondisi psikolog, komunikan adalah syarat minimal yang harus diperhatikan dalam membangun komunikasi yang baik.

Pemilihan kata babu bukanlah keputusan tepat manakala bentuk komunikasi yang digunakan adalah komunikasi massa. Kecuali Fahri Hamzah sengaja merujuk kepada cara komunikasi Basuki Cahaya Purnama alias Ahok yang frontal dan esensial namun kurang secara etiket.

Kemungkinan lainnya beliau merasa memiliki keeratan psikologis dengan rakyat Indonesia sehingga penggunaan bahasa resmi, bahasa akrab, bahasa prokem dan ragam bahasa Indonesia lainnya tak lagi dirasa perlu menjadi bahan pertimbangan. Maka kata ‘babu’ adalah bahasa kemesraan. Bisa jadi.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengertian dari babu adalah perempuan yang bekerja sebagai pembantu (pelayan) di rumah tangga. Bagi yang berjenis kelamin laki-laki, ia disebut jongos.

“Mengemis menjadi babu”. Begitu penulis mempersempit dan mempertegas premis pertama. Hal ini mengisyaratkan adanya dua cara yang dipakai anak bangsa untuk menjadi babu. Dengan cara mengemis dan tidak.

Hakikatnya, menjadi babu dan jongos adalah menjadi pelayan. Dalam skala kecil, manusia adalah babu atau jongos (pelayan, Red) bagi diri dan keluarganya sendiri. Maka seharusnya kita bersepakat, menjadi babu atau jongos adalah takdir bagi setiap manusia. Tentu, dengan kapasitas yang berbeda-beda.

Mengingat diberlakukannya Kepmenaker RI nomor 260 tahun 2015, tentang penghentian dan pelarangan penempatan TKI sektor informal ke Timur Tengah pada tanggal 1 Juli 2015, kita tidak bisa menutup mata adanya oknum-oknum dari calon TKI-nya sendiri melakukan berbagai cara dan mencari celah demi menjadi Pekerja Rumah Tangga (PRT) atau pelayan (kata halus dari babu dan jongos) di luar negeri. Khususnya di Timur Tengah. Penyelewengan dengan modus visa kunjungan atau ziarah misal.

Namun di dunia ini hukum aksi-reaksi atau sebab-akibat juga berlangsung. Menyimpulkan anak bangsa mengemis menjadi babu adalah pernyataan dengan cara pandang parsial.

Faktanya, anak bangsa yang terpaksa ‘mengemis’ menjadi babu atau jongos di luar negeri adalah akibat dari kurangnya ketersediaan lapangan kerja, minimnya upah atau gaji, kekurangseriusan pemberdayaan ekonomi kreatif, regulasi yang tak berpihak kepada rakyat dan beberapa faktor lain yang seharusnya menjadi tanggung jawab siapa, Pak Fahri? Sedangkan sejak 2010 UU TKI masih saja jalan di tempat. Pak Fahri, Bagaimana ini?

Penulis mengagumi sekali pernyataan Dubes RI Riyadh, Agus Maftuh Abegebriel bahwa posisi dubes adalah pelayan rakyat. Dan bukankah setiap kita yang berkampanye itu juga mengemis simpati dari rakyat Indonesia agar bisa menjadi babu dan jongos di keadministrasian negara?

Pilih mana, mengemis menjadi babu di negera sendiri atau di negara lain? Kalau saya, tidak keduanya.

Penulis: Hariri Thohir
(RED, 25/01)

BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
ATC Cargo
psstki