Berita > Opini
Berkah Restu Ibu
14 Jan 2017 20:07:43 WIB | Redaksi | dibaca 2969
Ket: Lind
Foto: LindaPuspita S

Hongkong, LiputanBMI -
Bagi orang kampung, di usia seperti saya ini (25 tahun), melanjutkan sekolah adalah hal yang sia-sia, buang-buang waktu, pikiran, dan yang pasti menghabiskan uang. Apalagi kondisi saya yang sedang bekerja di luar negeri.

Dulu, ibu melarang saya untuk lanjut kuliah. Tentunya, dengan berbagai alasan seperti yang saya sebut tadi.

"Selesai kuliah, bisa jadi apa?"

Pertanyaan itu yang terlontar. Jujur, saya sendiri bingung mau jawab apa. Yang jelas, cita-cita saya bisa berbagi ilmu pada siapapun.

Saya terdiam, tetapi tanpa sepengetahuannya, saya menghubungi kantor pendaftaran Universitas Terbuka (UT) di Hong Kong. Ngobrol dan sharing tentang keadaan pekerjaan dan keinginan saya.

Alhasil. Ucapan ibu ijabah. Saya tidak bisa kuliah karena waktu libur yang tidak pasti dan bukan di hari Minggu. Saat itu tahun 2013 akhir.

Ok. Saya terima, karena mungkin memang begitu jalannya. Namun tidak bisa dipungkiri, keinginan itu tetap tumbuh bergejolak.

Satu tahun kemudian, masa kontrak saya habis. Karena majikan kurang baik, akhirnya saya mencari bos baru. Saya berpikir, inilah kesempatan saya untuk dapat libur di hari Minggu seperti teman-teman BMI di Hong Kong lainnya.
Saat interview dengan calon majikan, saya mengajukan beberapa permintaan.

"Saya enggak makan babi, dan minta izin buat melakukan ibadah."

"Ok, tapi kamu tidak boleh ibadah di kamar atau di ruang tamu, tapi di dapur."

Saya mengangguk tersenyum dan mengiyakan.

"Saya minta libur setiap hari Minggu, karena saya ada kegiatan dan ikut les," pinta saya selanjutnya.

Mereka berpikir sejenak.

"Boleh, tapi saat saya ada keperluan kamu tidak boleh libur. Namun, jangan khawatir, saya akan infokan beberapa hari sebelumnya, supaya kamu bisa atur jadwal di luar."

Saya setuju dan semua deal.

4 February 2015 saya mulai bekerja di rumah majikan baru di kawasan Kowloon Bay, Hong Kong. Mereka mendukung setiap kegiatan saya, dari yang awalnya hanya kegiatan menulis dan beberapa kegiatan di luar.

Adaptasi. Ya, itu yang saya lakukan terlebih dahulu.

***

Satu tahun berlalu.

Januari 2016, sewaktu saya masih aktif di Majalah Gedoor sebagai reporter, saya mendapat tugas meliput acara Orentasi Study Mahasiswa Baru Universitas Terbuka (OSMB UT) di Bhayanihan Kennedy Town, Hong Kong.

Ketika itu, saya merasa kagum saat MC memanggil nama-nama yang mendapat nilai tertinggi. Beberapa di antara mereka berusia 30-40 tahun.

Saya langsung menghayal, jika itu adalah saya. Pasti ibu akan bangga dan mengubah pikirannya. Keinginan dan semangat untuk lanjut sekolah pun kembali tersulut.

Bulan Mei 2016, saya mendaftarkan diri ke Universitas Terbuka Kelompok Belajar Hong Kong (UT Pokjar HK) tanpa meminta izin ibu terlebih dahulu. Alhamdulillah, Allah memudahkan jalan.

Guru saya sewaktu di MTs dulu di Lampung, langsung bersedia mengurus pengambilan ijazah yang masih tertahan di Madrasah Aliyah. Beliau juga bersedia mengirimkann hasil scan-nya ke HK via email.

Setelah semua beres, barulah saya memberitahu ibu. Masih sama, ibu kurang setuju, tetapi tidak ada cara lagi selain menyetujui karena semua data-data sudah terkirim. Dalam hal ini saya memang keras kepala.

"Ya sudah kalau gitu, belajar yang bener dan jangan buang-buang waktu."

Yeaah, saya bahagia banget saat itu, dan bergumam, ‘Saya harus menepati janji.’

Hari-hari bekerja dari jam 6 pagi sampai jam 12 malam. Sebisa mungkin harus bisa membagi waktu, antara kerja, sekolah, dan hobi (menulis). Dapur, laptop, dan kamar adalah saksi bagaimana saya menjalani itu semua.

Tak jarang, saya tertidur sampai pagi di depan laptop. Sering juga bos membangunkan saya, saat tertidur ketika belajar.

Ujian pun tiba. Jam kerja tetap sama. Tidak ada kompensasi dari bos.

"Gimana, bisa enggak ujiannya nanti? Sudah menguasai semua materi belum?" tanya Pak Bos malam harinya.

Saya cuma tersenyum. Karena saya sendiri tidak yakin.

Pagi, saat perjalanan menuju kampus, saya menelepon ibu untuk meminta restu dan doanya. Usai berbicara dengan beliau, hati yang tadinya gelisah berubah tenang dan saya siap untuk menghadapi soal-soal ujian.

Ujian selesai, detik-detik pengumuman hasilnya pun tiba.

Tubuh ini gemetar, seiring jantung yang berdetak kencang saat melihat hasil nilainya. Mungkin beberapa orang yang saya kabari merasa saya terlalu lebay. Atau, mungkin ini hal biasa bagi mereka yang dari lulus SMA langsung lanjut ke perkuliahan.

Namun, tidak dengan saya yang sudah lulus 7 tahun lalu. Semua begitu berat dengan waktu belajar yang hanya 2 jam per hari dalam kondisi lelah dan ngantuk.

Saya yakin, ini semua berkah dari restu ibu, hingga saya mampu mendapat IPK yang memuaskan.

Semenjak saya memberitahukan itu, ibu tersenyum bahagia dan sekarang beliau sepenuhnya mendukung jalan saya ini.

Tanggung jawab baru pun muncul, yaitu mempertahankan. Karena saya sadari, bahwa mempertahankan itu lebih sulit dari meraihnya.

Terima kasih, ibu …

#Lin

(RED, 14/01)

BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
ATC Cargo
psstki