Berita > Cerpen Puisi
Karena Luka Kutemukan Bahagia
30 Dec 2016 22:03:15 WIB | Yully Agyl | dibaca 3736
Ket: ilustrasi
Foto: Google

Nasional, LiputanBMI - "Kapan pulang, Dik?" tanyanya di telepon.

"Satu tahun lagi," jawabku singkat.

"Aku berharap, kita bisa bertemu nanti. Ada banyak hal yang ingin kukatakan," katanya.

Kalimat itu, entah sudah berapa kali diucapkan. Tetapi bila kudesak untuk mengatakan saat itu juga, selalu saja dia menolak dengan alasan tidak etis.

Dia kukenal melalui Facebook saat aku baru satu tahun di Taiwan. Awalnya, aku tidak terlalu menghiraukan. Cerita-cerita dunia maya yang penuh tipu daya, membuatku cuek dengan kaum Adam. Cukup sekadar berbasa basi, sebatas teman. Apalagi aku sudah bukan ABG dan masih berstatus istri orang.

Ketika itu, sudah terendus kabar miring tentang suamiku. Tetapi, aku tetap berusaha menepis dan yakin, semua hanyalah cobaan karena jauhnya jarak di antara kami. Tujuanku ke Taiwan ingin memperbaiki ekonomi, ingin cepat bisa punya rumah sendiri.

Beruntung mendapatkan majikan baik dan libur tidak diharuskan. Aku memilih lembur dan hanya sesekali keluar sebentar untuk mengirim uang atau membeli kebutuhanku. Selain itu, jika kutinggal libur, nenek juga tidak ada pengganti untuk menjaga.

Hiburanku yang pasti hanya berselancar di dunia maya, hingga aku mengenalnya. Pembicaraan kami lebih sebatas kabar masing-masing, juga tentang anak-anak. Seperti minum obat tiga kali sehari, dia tidak pernah capek menanyakan kabar dan hal-hal sepele lainnya.

Seingatku hanya sekali dia membicarakan siapa dia, setelah itu tidak mau banyak bicara tentang pribadinya. Lelaki yang menurut perkiraanku delapan tahun lebih tua dariku itu terlihat mapan dengan pekerjaannya dan hanya anak bungsunya yang belum tuntas kuliah.

"Dia pergi dan aku tidak ingin mengenangnya. Yang penting anak-anak denganku semua."

Hanya itu ungkapan tentang mantan istrinya. Sedikit rasa percayaku mulai tumbuh, ketika setiap malam dia menyempatkan telepon dan kadang video call. Sesekali dia menanyakan hubunganku dengan suami. Hanya jawaban-jawaban singkat kukatakan. Aku tidak mau dia mencari celah kelemahan. Fokus kerja demi anak-anak itu yang penting.

*****
Waktu kepulangan semakin dekat. Sudah niatku, untuk tidak kembali lagi setelah hampir lima tahun. Sengaja aku memang ingin menghabiskan masa berlaku paspor dan pulang. Aku tidak mengambil cuti sama sekali karena waktu itu hatiku tertutup rasa kecewa terhadap suami.

"Jangan lupa ya, Dik, kalau pulang kabari aku," pintanya mengingatkan.

"Insya Allah."

"Apa mau aku jemput?"

"Jangan, Mas. Anak-anak dan keluarga sudah siap jemput, lagian aku sudah kangen banget dengan mereka."

"Pulang terus atau cuti, Dik?"

"Pulang terus, sudah capek."

"Baguslah, nanti kalau butuh pekerjaan, aku akan bantu mencarikan. Biar kita bisa sering ketemu," katanya lagi.

"Baik, terimakasih ya Mas, atas kebaikannya. Mau jadi teman yang setia menemani hari-hariku, walau hanya lewat maya."

"Sama-sama. Aku juga senang kenal kamu, Dik.

Pertemanan itu terasa begitu indah. Dari semua teman yang kukenal di dumay, hanya dia yang benar-benar tidak lelah dan tidak bosan berkomunikasi setiap hari.

Dia tidak pernah ikut-ikutan komentar di statusku, tetapi akan langsung bertanya dan menegur lewat chatting bila statusku dirasa janggal dan tidak baik.

Dari lamanya kedekatan lewat dumay, aku jadi hafal waktu-waktu dia sibuk atau tidak, waktu kapan dia di kantor, kapan dia pulang.
Kadang terbesit dalam benak, kenapa orang terlihat begitu penyayang, rajin, dan bertanggungjawab, ditinggal istrinya?
Adakah alasan lain yang mungkin masih di sembunyikan dariku?

Apakah aku mulai menyukainya? Jujur, dalam hati kadang juga merasa kehilangan bila dia terlambat menyapa. Ada rasa sepi ketika dia disibukkan dengan urusan kantornya. Juga terbesit khawatir saat dia mengatakan sakit.

Sementara ..., suamiku sudah tidak ada kabar berita sama sekali. Saudaranya pun mengatakan tidak tahu bila kutanya. Entah pura-pura atau tidak, akupun tak tahu.

****
Aku pulang tepat satu minggu sebelum habis masa berlaku paspor. Rasa kangen dan senang berkumpul dengan kedua buah hati membuatku sejenak melupakan sahabat mayaku. Hingga satu minggu di rumah baru aku menghubunginya.

"Halo, Mas. Maaf ya baru sekarang sempat kasih kabar. Maklum, begitu pulang langsung sibuk ini itu."

"Iya, aku maklum. Kupikir kamu lupa sama aku."

"Ya tidak lah... terlalu senang bertemu keluarga."

"Kapan kita bisa ketemu? Gak sabar rasanya."

"Nanti aku kasih kabar deh."

Rasanya aku pun juga penasaran dengan lelaki satu ini. Dia yang lebih sering dipanggil Mas, daripada nama aslinya Iswandaru. Melihat dan merasakan keakraban yang terjalin lama, aku yakin dia lelaki baik-baik.

Setelah kurasa ada waktu yang tepat, satu bulan setelah kepulangan aku membuat janji dengannya. Ternyata aku ada perasaan takut dan grogi. Aneh.

Di hari dan tempat yang telah kami sepakati, akhirnya pertemuan itu terjadi. Di sebuah caffe shop kecil yang lumayan tenang. Sebelumnya dia yang menjemputku di terminal terdekat, karena takut kesasar.

Dari penampilan fisik, aku akui jauh lebih keren dari suamiku. Walau diusia yang mendekati kepala lima, dia masih terlihat gagah. Dengan pakaian rapi dan sepatu yang mengkilat. Sikapnya pun ramah dan menghargai wanita.

"Akhirnya penantianku tidak sia-sia," katanya membuka percakapan.

"Ya, inilah aku. Mantan TKW, ibu dua orang anak."

"Sama. Aku bapak dari dua orang anak."

Kami sama-sama tersenyum.
Ada rasa nyaman didekatnya dan rasa takut yang sempat mendera hilang.

"Bagaimana urusan di rumah, Dik? Sudah bereskah?"

"Belum, masih banyak."

"Bagaimana dengan bapaknya anak-anak? Maaf ya kalau aku lancang."

"Aku sudah menemui keluarga suamiku. Mereka menyerahkan keputusan kepadaku."

"Terus...?"

"Sudah kukumpulkan surat-surat yang dibutuhkan. Akan kuurus perceraian itu. Untuk apa menunggu orang yang tidak jelas, sedang dia mungkin sudah merasa bahagia dengan wanita lain. Yang aku heran, wanita selingkuhannya itu lho lebih tua dari suamiku."

"Apa kamu tahu?"

"Ya tahu sudah lamalah. Oya, sekarang aku balik tanya. Mas mau omong apa denganku?"

Lelaki itu diam sesaat, dia mengambil sebuah amplop dari saku dalam jaketnya dan menyodorkan ke aku.

"Apa ini?" tanyaku heran.

"Ambil dan bukalah."

Kubuka amplop itu. Sebuah foto.

"Haahh...! Darimana Mas dapat foto dia? Itu foto perempuan sundal itu. Tapi, kenapa dengan Mas? Apa makudnya?"

"Itulah yang ingin kukatakan, dia itu istriku."

"Apa? Istri Mas?"

"Ya. Aku juga tidak menyangka dia berani berbuat seperti itu. Sudah punya menantu, tapi tak punya malu. Aku sempat down juga, Dik. Malu sama tetangga, saudara, juga teman kantor. Demikian juga dengan anak-anak."

"Terus...?"

"Terus, ya untuk apa mempertahankan semuanya? Dia sudah mencoreng mukaku dan anak-anak karena ulahnya. Aku urus perceraian dan dia harus pergi dari rumah kami."

Suasana hening sesaat. Aku tidak tahu, kebetulankah semua ini?

"Apakah Mas mengenalku karena tahu kalau aku istri lelaki yang merusak rumah tangga Mas?"

"Tidak! Tidak sama sekali. Justru aku terkejut waktu beberapa bulan setelah kita kenal di facebook, aku melihat kamu upload foto suamimu. Aku juga tidak menyangka semua ini."

Pembicaraan kami semakin panjang lebar. Cerita-cerita tentang istrinya dan memang sama dengan kabar tentang suamiku yang pernah kudengar dulu.

*****
Pertemuan itu menjadi awal segalanya. Mas Is terus berusaha mendekati dan meyakinkan aku dan keluarga. Niatnya sudah mantap untuk menikahiku sejak 2 tahun yang lalu.

Menurutnya, kalau mereka - istrinya dan suamiku - bisa bahagia dengan cara itu, kenapa kami membiarkan hati ini sakit?

Keseriusannya dibuktikan dengan pendekatan ke kedua anakku. Kedua anaknya pun ternyata telah lama memberi lampu hijau. Tidak lupa, dia juga mencarikan aku pekerjaan di tempatnya bekerja, walau hanya sebagai pegawai kelas bawah.

Mungkin inilah skenario Tuhan. Kami menikah setelah surat ceraiku keluar dan lewat masa Iddah.
Kami sama-sama berangkat dari luka yang sama, terkhianati. Tuhan-lah yang mempertemukan kami dengan cara-Nya.
Aku dan anak-anak tinggal di rumah mas Is beserta anak bungsunya. Kami bahagia, karena semua saling mengisi dan anak-anak mas Is juga mau membimbing anak-anakku.

Puji syukur senantiasa kuucap, walau laksana "bertukar cinta dan pasangan", kami yakin bisa lebih bahagia.

***TAMAT***
(YLA, 30/12)

BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
ATC Cargo
psstki