Berita > Cerpen Puisi
Aku Senang Engkau Pulang Tapi Kini Aku Sudah Menjadi Suami Orang
18 Nov 2016 22:44:41 WIB | Jafry Aljawad | dibaca 39765
Ket: Ilustrasi TKI sedang pulang
Foto: Google

Riyadh, LiputanBMI - Tarjo dan Sriatun adalah sepasang kekasih yang sudah menjalin hubungan cinta cukup lama. Tarjo bekerja di sebuah bengkel sepeda motor, sementara Sriatun baru saja lulus SMK. Hubungan cinta Tarjo dan Sriatun berawal saat Sriatun masih sekolah di SMK yang sering dibonceng waktu pulang sekolah.

Walaupun keduanya sudah menjalin hubungan lama tapi tidak lantas melanjutkan ke pelaminan karena belum siap. Sriatun ingin membantu meringankan beban orang tuanya karena ia punya empat adik yang masih sekolah, sementara orang tuanya hanya buruh tani biasa.

Terdorong ingin punya masa depan yang cerah dan ingin membantu membiayai adik-adiknya maka Sriatun berketatapan hati untuk bekerja ke luar negeri. Ia ingin menjadi TKI formal ke Korea atau Jepang, tapi apa boleh buat akhirnya Sriatun harus menerima kenyataan hanya menjadi asisten rumah tangga di Saudi, karena PJTKI yang ia datangi tak ada visa formal seperti yang diharapkan.

Niat Sriatun tersebut tentu saja sangat didukung oleh Tarjo, karena dia sendiri merasa belum siap untuk menjalani hidup berumah tangga. Suatu ketika Sriatun berkata kepada Tarjo :

“Mas kalau nanti Tuhan mengijinkan kita berjodoh dan aku dapat modal, kita bisa buka bengkel sendiri tanpa kerja di tempat orang lain”.

Saat Sriatun berangkat ke Jakarta Tarjo mengantar di stasiun kereta api Pekalongan. Kedua pasangan kekasih ini meneteskan air mata ketika berjabat tangan sebagai tanda perpisahan. Sponsor yang membawa Sriatun ke Jakarta mengerti betul perasaan cinta kedua insan ini. Dia memberi semangat dan menepuk bahu Tarjo sambil berkata :

"Jo, suatu saat nanti Sriatun pasti kembali, ia pergi demi masa depan kalian berdua juga, jangan sedih dan jangan cengeng".

Disamping sedih ditinggal kekasihnya, namun ada dorongan semangat bekerja buat Tarjo juga, karena kelak kalau ada modal dari calon isterinya itu ia bisa membuka bengkel sendiri. Kini Tarjo rajin menabung untuk persiapan menikah nanti dan mempersiapkan bekal untuk membuka usaha sendiri.

Saat Sriatun akan terbang ia masih sempat memberi kabar lewat telpon kepada Tarjo. Dalam percakapanya Tarjo memberi dorongan dan pesan kepada Sriatun agar bekerja dengan hati-hati dan bisa menjaga diri di luar negeri. Tiga bulan Sriatun di Saudi ia baru memberi kabar ke Tarjo, itupun hanya singkat bahwa ia baik-baik saja.

Sejak dapat kabar pertama itu tak ada lagi kabar selanjutnya dari Sriatun untuk Tarjo. Saking penasaran Tarjo sengaja datang ke rumah orang tua Sriatun menanyakan kabar kekasihnya.
Di rumah orang tua kekasihnya itu Tarjo dapat penjelasan, bahwa selama setahun di Saudi Sriatun hanya tiga kali memberi kabar, terakhir saat ia mengirim uang gaji selama enam bulan, sejak itu tak ada lagi kabarnya. Dapat penjelasan demikian Tarjo tetap berprasangka baik, semoga kekasihnya itu tak ada masalah dan kelak bisa berjumpa lagi.

Sampai dua tahun Tarjo menanti, kabar dari Sriatun tak ada sama sekali. Dia mendatangi rumah sponsor agar menanyakan keberadaan Sriatun kepada PJTKI yang mengirim Sriatun, namun hasilnya nihil. Dapat informasi nihil Tarjo tetap setia dan sabar serta berdoa agar Sriatun yang dicintainya itu baik-baik saja. Penantian Tarjo cukup panjang sampai empat tahun Sriatun tak ada kabar.

Memasuki tahun kelima Tarjo mulai habis kesabaran menanti Sriatun pulang, orang tuanyapun selalu mendorong agar Tarjo menikah dengan wanita lain saja karena yang ditunggu tak ada kabarnya.

Tarjo menyempatkan diri datang ke orang tua Sriatun lagi justru orang tua Sriatun juga mendorong agar Tarjo menikah dengan wanita lain saja seperti apa yang dikatakan orang tua Tarjo sendiri. Dengan nada sedih orang tua Sriatun berkata :

“Udahlah Nak Tarjo, lupakan Sriatun anak saya yang tiada kabarnya. Nak Tarjo menikah dengan gadis lain saja, bapak tak apa-apa. Kalau nanti ada apa-apa di belakang hari bapak yang bertanggung jawab”.

Maka Tarjo mulai mendekati gadis sekampungnya, sebut saja namanya Yani. Gadis itu kebetulan teman sekolah Sriatun sewaktu di SMP dan kini bekerja di sebuah pabrik tekstil. Tak banyak pertimbangan dan perhitungan Tarjo akhirnya menikah dengan Yani. Kedua pasangan ini kelihatan cukup bahagia, Yani masih tetap bekerja seperti sedia kala, saat pulang, Tarjo menjemputnya.

Saat Yani hamil tua dan cuti kerja ada kabar dari tetangga bahwa Sriatun pulang. Tarjopun mendengar kabar itu, tadinya kaget juga dan terlintas perasaan macam-macam, tapi akhirnya ia bisa meredam perasaan itu karena kini ia sudah beristri yang sedang hamil tua.

Sementara itu Sriatun sudah diberi tahu oleh orang tuanya bahwa Tarjo telah menikah dengan Yani teman sekolahnya dulu. Hati Sriatun terasa hancur, sedih dan kecewa.

Karena Sriatun lima tahun menjadi TKI baru pulang sekali, maka banyak tetangga yang datang ke rumahnya menanyakan kabarnya. Dengan banyaknya tetangga dan saudara yang datang ke rumahnya itu Sriatun bisa menutupi kesedihan hatinya.

Saat malam menjelang waktu tidur, pikiran Sriatun menerawang kemana-mana, hatinya berkecamuk dan bergemuruh. Sriatun kehilangan harapan, ia pulang berharap bisa berjodoh dengan Tarjo, tapi kini Tarjo sudah menjadi suami orang yang tak lain temannya sendiri.

Melalui orang tuanya, Sriatun mengundang Yani agar mau datang ke rumahnya bersama suaminya. Maka pada suatu sore hari saat Tarjo belum pulang kerja Yani datang ke rumah Sriatun memenuhi permintaan temannya itu. Ketika Yani sampai di rumah Sriatun ia disambut dengan ciuman dan dekapan erat sebagai seorang sahabat. Saat keduanya ngobrol Yani sempat minta maaf sama Sriatun, karena mau dinikahi Tarjo kekasihnya dulu.

“Maaf Sri ya, aku mau dinikahi Mas Tarjo. Kupikir dan semua berpikir kamu tak akan pulang karena selama lima tahun tak ada kabarnya”, kata Yani kepada Sriatun

“Yani bukan salah kamu, bukan pula salah Mas Tarjo tapi salahku yang lama tiada kabarnya. Udahlah lupakan itu, kita ngobrol mengenang waktu masih sekolah dulu saja”, kata Sriatun menghibur diri, padahal hatinya hancur.

Ketika keduanya asyik ngobrol terdengar suara motor berhenti di depan rumah Sriatun, tak lama kemudian terdengar ucapan salam. Betapa terkejutnya hati Sriatun ternyata yang datang ke rumahnya adalah Tarjo. Tarjo menyalami Sriatun sambil menatap wajahnya selintas, kemudian menanyakan kabar. Sriatun hatinya bergejolak seakan ingin menangis dan memeluk Tarjo, tapi ia dapat meredam gejolak hatinya mengingat istri Tarjo ada di sampingnya.

Mengetahui Tarjo datang, orang tua Sriatun menghampiri menanyakan kabar dan ngajak ngobrol. Saat Tarjo sedang ngobrol dengan orang tuanya, Sriatun ke belakang membuatkan teh.

Sriatun memperhatikan wajah Tarjo dari balik pintu, pikiranya terkenang sewaktu menjalin cinta lima tahun lalu. Ingin rasanya Sriatun memeluk, menjerit dan menjelaskan alasan mengapa ia lama nggak ngasih kabar. Namun Sriatun bisa menahan gejolak hatinya karena ia tahu Tarjo kini sudah menjadi suami temanya sendiri.

Obrolan Tarjo tidak lama karena sore itu ia harus mengantar isterinya ke bidan untuk kontrol atau periksa kehamilan yang sudah sembilan bulan, iapun lantas berpamitan. Mendengar Tarjo berpamitan mau pulang Sriatun berkata :

"Tunggu sebentar Mas, ini ada oleh-oleh buat Yani dan sampean".

Lalu Sriatun masuk ke kamarnya mengambil dua bungkusan yang sudah disiapkan.

Saat malam hari tiba, lagi-lagi hati Sriatun berkecamuk, sepanjang malam ia tak bisa tidur. Sriatun berencana ingin menemui Tarjo di tempat kerjanya untuk mengungkapkan gejolak hatinya.

Sriatun bertanya kepada orang tuanya di mana tempat kerja Tarjo sekarang. Orang tuanyapun memberi tahu, tapi ia pesan agar Sriatun bisa melupakan masa lalu, jangan sampai mengganggu rumah tangga Tarjo.


“Udahlah Sri lupakan masa yang lalu. Bapak tahu perasaanmu, tapi Tarjo kini sudah menjadi suami Yani yang sedang hamil tua. Hukumnya sangat berdosa jika kamu mengganggu rumah tangga orang. Tarjo itu berarti bukan jodohmu, Insya Allah nanti ada laki-laki yang lain menggantikanya” kata ayah Sriatun.

Dengan alasan mau ke kota menukarkan uang real dan berbelanja, Sriatun pergi mencari bengkel tempat Tarjo bekerja. Sriatun sampai di bengkel Tarjo beberapa menit menjelang waktu istirahat siang. Tarjo diajak Sriatun makan siang ke sebuah rumah makan besar di jalan Pantura tempat bus antar kota antar propinsi istirahat. Saat dibonceng motor Tarjo, tingkah polah Sriatun seperti saat masih sekolah sebelum ia ke Saudi dulu.

Di restoran Sriatun kelihatan lesu, makanan yang dipesan hanya dimakan beberapa sendok saja. Sriatun tak kuasa menahan air mata, ia menangis menceritakan alasan kenapa tak memberi kabar selama empat tahun lamanya.

Sekalipun begitu, Sriatun tak menuntut apa-apa pada Tarjo karena semasa pacaran dulu ia masih menjaga kesucian mahkota kewanitaanya. Sriatun hanya melepas kerinduan dan mengungkapkan perasaannya saja agar tidak mengendap dalam hatinya. Sriatun sadar kini Tarjo sudah menjadi suami Yani yang tidak lain sahabatnya sendiri.

Saat Sriatun mengungkapkan perasaan yang terpendam dalam hatinya itu Tarjo hanya diam saja pandangan matanya datar ke depan, sekali-sekali ia menundukan kepala seperti merasa bersalah. Tadinya ia juga akan mengungkapkan kegalauan hatinya beberapa tahun lalu saat-saat ia empat tahun menanti kabar Sriatun yang tak kunjung datang.

Hati Tarjo merasakan apa yang dirasakan Sriatun juga, tapi untuk apa mendramatisir keadaan? Kini waktu telah berganti, musim sudah berubah dan status Tarjo telah menjadi seorang suami. Dengan menahan degup jantungnya akhirnya Tarjo berucap :

“Sri, aku senang engkau pulang tapi kini aku sudah menjadi suami orang”.

** Cerita ini hanya fiktif belaka jika ada persamaan nama, tempat dan kejadian itu hanya kebetulan.

(JWD, 18/11)

PBBC Liputan BMI
Universitas Terbuka Riyadh