Berita > Ekosospol
SIJ, Prestasi Murid dan Over Kapasitas Gedung
17 Nov 2016 02:56:04 WIB | Redaksi | dibaca 2033
Ket: siswa-siswi SIJ
Foto: Google

Jeddah, LiputanBMI - Demi keberlangsungan pendidikan anak-anak warga negara Indonesia di luar negeri, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI berkolaborasi mendirikan 14 Sekolah Indonesia di berbagai belahan dunia.

Beberapa di antaranya di Tokyo, Moskow, Bangkok dan Singapura. Di Arab Saudi, terdapat 3 Sekolah Indonesia yang menjadi bagian dari Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN), yakni Sekolah Indonesia Jeddah (SIJ), Sekolah Indonesia Makkah (SIM) dan Sekolah Indonesia Riyadh (SIR).

Satu dekade ini, SIJ selalu menempati urutan pertama sebagai sekolah Indonesia yang memiliki jumlah anak didik terbanyak di luar negeri. Tahun ini, SIJ menampung 1447 murid dengan hanya diimbangi 39 tenaga guru. Banyak prestasi yang berhasil diperoleh SIJ, baik prestasi guru maupun murid di tingkat nasional dan regional.

Deretan prestasi siswa-siswi SIJ di antaranya menjadi juara II Kompetisi Sepak Bola SIFF (Saudi Indian Football Forum) antar Sekolah Internasional di Jeddah (2001), juara I Lomba Keberhasilan Guru Tingkat Nasional (2006), juara I Lomba Story Telly Apresiasi SILN Tingkat SMA (2010), dan sebagainya.

Namun amat disayangkan, SIJ sebagai representasi pendidikan Indonesia di Arab Saudi kini dihadapi permasalahan gedung yang tidak memenuhi standar keamanan dan keselamatan pemerintah setempat. Berakhirnya masa hak guna gedung di bulan Juli 2017 mendatang, semakin menuntut pergerakan cepat dari perwakilan pemerintah RI, yakni KJRI dan KBRI agar segera menemukan opsi terbaik demi keberlangsungan pendidikan siswa-siswi SIJ.

Tak hanya itu, kapasitas 23 ruang kelas yang tidak sebanding dengan jumlah anak didik turut menjadi keresahan bagi orang tua murid.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Sekolah Indonesia Jeddah Sugiyono mengakui sarana dan prasarana SIJ belum memenuhi standar Pendidikan Arab Saudi.

“Sudah ada ikhtiar sejak lama untuk pencarian gedung baru yang lebih layak, supaya semua bisa berjalan normal dan ekstrakulikuler lebih maksimal sesuai keingingan warga SIJ," ujarnya saat ditemui LiputanBMI di kantornya, Selasa (15/11).

Menurutnya, sudah banyak gedung yang ditemukan dan disurvei, namun umumnya jumlah ruangan untuk menampung banyaknya jumlah murid SIJ tidak memadai.

"Terakhir kami bersama tokoh masyarakat dan Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) melihat gedung di Fayha, dari fakta gedung jumlah ruangan memang lebih banyak (40 ruangan). Namun dari sisi ukuran luas ruangan lebih sempit daripada yang sekarang. Paling luas hanya 4x8 meter, mayoritas 4x6 meter. Di sana tidak ada halaman atau area terbuka serta lorong-lorong untuk menuju ruang juga lebih kecil”, ungkapnya.

Perihal masa kontrak gedung yang akan habis, Sugiyono menyatakan Atdikbud mampu membantu dan menjamin kontrak tersebut bisa diperpanjang hingga menemukan gedung yang sesuai kriteria.

“Atdikbud menjamin keberlangsungan belajar mengajar tidak akan terganggu seandainya Juli 2017 kita belum dapat gedung baru. Tapi upaya utama kita tetap memperoleh gedung baru," jelasnya.

Sementara itu di sisi lain, Afif Wahyudi, salah satu guru SIJ mengungkapkan banyak kendala yang dihadapi tim pencari gedung SIJ. Terutama peraturan dari Departemen Pendidikan Arab Saudi.

“Kalau sekolah ini disebut tidak layak, memang benar. Bahkan kami harus me-manage hingga tiga shift waktu belajar agar semua berjalan lancar. Dalam bayangan saya, sekolah yang baru harus lebih besar dan luas. Jadi memang kalau tidak bangun sendiri, lebih mendekati mustahil untuk mendapatkan gedung yang sesuai kita butuhkan,” tandasnya. (PHP)

(RED, 17/11)

PBBC Liputan BMI
Universitas Terbuka Riyadh