Berita > Cerpen Puisi
Kebahagiaan yang Terpenggal
03 Oct 2016 18:59:19 WIB | Figo Kurniawan | dibaca 3416
Ket: ilustrasi
Foto: sport.detik.com

Kuala Lumpur, LiputanBMI - Seharusnya malam itu menjadi sangat indah karena kehamilanku. Penantian yang kami tunggu hampir lima tahun usia pernikahan telah terjawab pada purnama sebulan yang lalu.

Tapi apa? Suamiku malah lebih dulu pergi untuk selama-lamanya sebelum kuberitahukan kabar gembira bahwa dia akan menjadi seorang ayah.

"Mbak Susi, yang sabar ya ..., aku minta maaf, tidak bisa menolong Mas Endro."

Penuturan Karman cukup membuatku mengerti kalau ia sudah berusaha menolong suamiku. Namun, ada satu hal yang membuatku menyesal seumur hidup, kenapa siang itu aku tak meneleponnya untuk memberitahukan kehamilanku. Padahal, hampir lima tahun dia menunggu kabar gembira itu.

***

Tiga tahun yang lalu aku menyusul datang ke negeri jiran, tempat suami mengais rezeki. Jauh-jauh dari pulau Jawa, berbekal sejuta rindu untuk berjumpa suami tercinta di negeri seberang.

Awalnya hanya berniat liburan karena kerinduan terpendam selama dua tahun berpisah, tetapi akhirnya kuputuskan membuat permit rumah tangga agar bisa tinggal lebih lama.

Bos Mas Endro menjadi majikanku dalam work permit itu. Sangat baik memang, mau meminjamkan nama, padahal aku bekerja sebagi cleaning service dari rumah ke rumah. Tidak bekerja di rumahnya.

Ketenangan bekerja karena mempunyai dokumen yang sah membuatku kerasan. Apalagi, sudah tak ada lagi rindu yang menyiksa seperti dulu saat aku dan suamiku berpisah.

***

Hanya bisa memandang sayu mayat Mas Endro sesaat sebelum dimasukkan peti jenazah untuk proses pemulangan ke tanah air. Lafal doa pun samar-samar terucap dari bibir pucatku. Aku benar-benar tidak berdaya menerima kematian suami secepat ini.

"Dik, nanti kalau kamu isi, kita pulang sama-sama, ya," terngiang ucap Mas Endro penuh harap sambil mengelus perutku beberapa bulan yang lalu, "mudah-mudahan pas kamu hamil, sambung permitku juga sudah siap," lanjutnya seraya mengelus rambutku.
Bulir air mata berlinang kembali.

"Sabar, Jeng ..., semua sudah kehendak yang Maha Kuasa," hibur Indri, sambil menyeka air mataku. Bukannya terhapus, malah semakin membanjir. Mataku berkunang-kunang. Badanku terasa ringan. Yang kuingat, aku dirangkul Indri, teman kerjaku. Setelah itu, aku tidak ingat apa-apa lagi.

***

Kami sudah merasa cukup bergelut di tanah rantau ini. Lima tahun membuahkan hasil yang lumayan. Rumah sederhana, sepetak sawah dan sedikit modal telah menanti kepulangan kami. Tinggal menunggu sambung permit mas Endro yang belum siap.

Kalau saja urusan permit bisa dibatalkan ; tidak jadi sambung dan Mas Endro pulang dengan cara membayar compound, pasti saat ini kami sudah berbahagia di Jawa.

'Sekarang aku hamil, Mas ..., besok kita pulang sama-sama, tetapi aku tidak pernah berharap jika harus kembali ke tanah air hanya bersama jasad tanpa nyawamu,' bisikku dalam hati.

Entahlah…, mungkin ini sudah garis hidupku. Takdir-Nya. Ya …, kini aku menjadi seorang janda. Buah cinta kami yang masih berada dalam rahimku akan menjadi anak yatim. Kebahagiaan kami yang hampir sempurna dengan hasil positif tes urin, terpenggal tiba-tiba.

***

“Mbak …, Mas Endro jatuh. Sekarang di rumah sakit.”

Sebulan yang lalu, suara Karman -teman kerja suamiku- di gagang telepon membuatku menggigil. Sore itu, langit seakan runtuh. Detak nadiku seolah terhenti di titik mati. Nafasku sengal.

Darah yang mengucur dari kepala suamiku tak berhenti saat jatuh dari bangunan lantai tujuh tempatnya bekerja. Dari penuturan Karman, aku baru tahu bahwa Mas Endro ternyata sudah mengembuskan napas terakhir saat perjalanan ke rumah sakit.

Karman sudah berusaha menolong saat baju Mas Endro tersangkut di tiang penyangga tangga, tetapi belum sempat tangan Karman meraih tangan Mas Endro, baju yang tersangkut sobek dan Mas Endro jatuh.

Aku yakin, bukan semata-mata licin tangga karena gerimis yang membuat Mas Endro terpeleset jatuh dan meninggal. Ini semua sudah takdir-Nya.

‘Mas, derai air mataku sudah berhenti. Aku sudah ikhlas melepasmu untuk dipeluk bumi. Bahagialah di surga-Nya. Akan kujaga dengan sepenuh hati buah cinta kita. Tak mungkin takdir kita sangkal, meski pedih perih kurasa saat bahagia kita terpenggal tiba-tiba’.

***TAMAT***

foot note:
work permit : dokumen izin kerja
cleaning service: petugas kebersihan
compound : denda

*) Cerita di atas fiktif belaka, jika ada kesamaan nama hanya kebetulan semata.
(FK, 03/10)

PBBC Liputan BMI
Universitas Terbuka Riyadh