Cerpen Puisi - Liputan BMI

Aku Hanya Ingin Suami Kembali

Posted by: Yully Agyl | 28 September 2016 23:19 WIB | dibaca 3877 kali

Aku Hanya Ingin Suami Kembali

Photo :

Nasional, LiputanBMI - Kalau saja waktu bisa diputar kembali, aku akan memilih waktu tujuh tahun yang lalu. Saat aku dan kamu adalah kita, yang selalu bersama dalam suka dan duka.
Namun, kini semua hanya tinggal cerita yang masih belum tahu akan berakhir seperti apa.

Namaku Wuri, ibu dari dua putra, yang kini harus berjuang sendiri. Berjuang mempertahankan rumah tangga dan juga menghidupi anak-anak sendiri.

Mas Edi, lelaki yang kukenal sembilan tahun silam ketika kami sama-sama menjadi TKI kini semakin tidak jelas ketegasannya.

Perkenalan kami hanya lewat dunia maya. Aku waktu itu di Hong Kong sedangkan Mas Edi di Korea Selatan. Hingga Tuhan mempertemukan kami dalam ikatan pernikahan. Tentu saja bahagia rasanya.

Di tahun kedua anak pertama kami lahir. Karena terbiasa gaji luar negeri, biarpun rumah, sawah telah punya, kami memutuskan merantau lagi. Kini negeri kangguru menjadi tujuan kami. Anak diasuh orangtuaku.

Walaupun dengan visa turis, kami sudah ada tujuannya. Bekerja di Ausie bersama suami, dengan gaji yang lumayan tinggi, sungguh menyenangkan. Segalanya menjadi begitu mudah bila dijalani bersama. Pengalaman luar negeri sebelumnya, adalah pelajaran berharga bagi kami.

Kami memang jauh dari keluarga, tetapi sanak saudara seperti patuh. Patuh dalam artian karena mereka selalu mengharap pasokan dana. Kami memang tidak ingin dibilang pelit, sombong atau apalah. Itulah sebabnya bisa dibilang kami terlalu royal.

Baru satu tahun di negeri kangguru, aku hamil anak kedua.

"Lebih baik kamu pulang duluan, Dik. Bukannya aku tidak mau repot, tapi kau takut, nanti kita kena masalah. Karena kita illegal," kata Mas Edi.

"Kita pulang sama-sama aja, Mas. Bukankah sudah punya modal?" pintaku.

"Pekerjaan di sini sedang ramai-ramainya, kamu tahu sendiri. Sayang kalau dilewatkan begitu saja. Tahun depan deh aku pulang," katanya.

Dengan terpaksa, aku pulang dan Mas Edi berjanji tahun depan akan menyusul.

*****
Hari berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Janji Mas Edi untuk kembali dan berkumpul dengan aku dan kedua anak kami menguap begitu saja. Selalu saja beralasan menyayangkan kesempatan kerja.

Memang siapa yang tidak tergiur dengan gaji lebih dari 30 juta perbulan.

Tetapi lama-kelamaan, sikap Mas Edi berubah. Telepon pun jarang. Beruntung, ada banyak aplikasi internet yang memudahkan untuk telepon dengan biaya yang tidak terlalu mahal. Namun begitu, Mas Edi seperti ogah-ogahan menjawab teleponku.

"Kenapa sih Mas, kok jadi jarang telepon atau SMS? Tidak kangen sama anak-anak? Si kecil udah mulai belajar jalan lho, Mas. Lucu, cantik," kataku di suatu hari.

"Aku capek. Banyak kerjaan, sering lembur dan pulang dah malam," jawabnya.

"O...gitu ya? Jaga kesehatan ya Mas. Andai saja aku boleh menyusul, pasti lebih enak. Ada yang memasak, cuci baju kamu," kataku.

"Sudahlah jangan pikir itu, urus saja anak-anak. Yang penting jatah kan selalu datang," jawab mas Edi dengan nada ketus.

Sebenarnya aku ingin bertanya banyak, tetapi mendengar jawaban itu, kuurungkan niat. Memang jatah uang belanja selalu dikirim tetapi uang kiriman tidak langsung dari mas Edi melainkan ditransfer dari rekening saudaranya dalam jumlah yang pas-pasan.

Aku tidak pernah tahu sisa gajinya untuk apa dan kemana. Perubahan sikap keluarga Mas Edi juga terasa. Sinis, dan seperti tidak menganggap aku bagian keluarga mereka juga.

*****
Kejanggalan yang semakin nampak, membuatku berusaha mencari informasi ke teman-teman di Ausie yang masih bisa kuhubungi. Semula mereka tidak mau bicara, tetapi lambat laun ada bocor juga rahasia mas Edi.

Bahwa mas Edi telah tinggal dengan seorang perempuan yang juga mantan TKW Hong Kong. Bahwa keluarga Mas Edi pun tahu kebejatannya tetapi tutup mulut demi uang agar terus mengalir.

"Kenapa kamu tega lakukan ini, Mas? Bukankah aku sudah bilang, kalau kamu kesepian lebih baik pulang atau aku menyusul kamu," kataku via telepon dengan rasa marah yang sangat.

"Sudahlah, jangan banyak omong, yang penting aku masih kasih kamu dan anak-anak uang belanja," jawabnya tanpa ada rasa bersalah.

"Maaf, Mas. Apa kamu pikir dengan uang belanja yang terus berkurang jumlahnya itu cukup untuk menutupi sakit hatiku? Apa kamu tidak tahu, setiap hari anak-anak menanyakan bapaknya."

"Ahh... kamu banyak alasan. Aku justru ingin katakan padamu, urus perceraian kita. Aku tidak bisa pulang mengurusnya."
Jawaban mas Edi bagai petir di kemarau yang terik.

"Tidak! Aku tidak akan mengurusnya, kecuali kamu mau pulang dan menemui aku dan anak-anak terlebih dahulu," jawabku tegas.

Sejak pertengkaran itu, mas Edi semakin sulit dihubungi. SMS-ku tidak pernah dibalas. Yang lebih membuatku sedih, keluarganya pun seperti mendukung sikap Mas Adi.

Aku tetap pada pendirian, tidak akan mengurus surat cerai itu, sebelum mas Edi datang sendiri menemuiku. Anehnya, saudara mas Edi juga ikut mengusik hasil jerih payah aku dan mas Edi dulu yang sudah berupa lahan sawah dan rumah yang kutinggali bersama anak-anak.

Mereka menginginkan sertifikat yang ada padaku dengan alasan mau dibagi rata.

'Bukankah aku dan anak-anak lebih berhak daripada saudaramu, Mas? Rumah dan sawah hasil jerih payah kita berdua. Kalau memang kamu ingin dibagi harta gono gini, pulanglah!'
SMS yang kukirim ke mas Edi.

Mas Edi tidak pernah membalas, tetapi aku tahu dia sudah membacanya. Sepertinya dia ada rasa takut dengan perempuan simpanannya yang berasal tak jauh dari kota tempat tinggal mertuaku itu.

****
Sudah tiga tahun lebih hubungan kami mengambang. Putra sulungku kini belajar dan tinggal di pondok pesantren. Sementara, sambil mengasuh si kecil aku membuka usaha kecil-kecilan untuk memenuhi kebutuhan kami bertiga.

Aku tidak bisa berharap akan ada jatah kiriman dari suamiku. Saat ini penghasilannya dikuasai perempuan itu dan saudara-saudaranya.

Aku akan terus bertahan dan memperjuangkan rumah tanggaku. Aku yakin, mas Edi masih berat melepas aku dan anak-anak. Buktinya, dia tidak melakukan apapun, walau sebenarnya dia mampu dengan uang yang ada.

Hanya doa dan doa panjang, semoga dia tersadarkan. Aku dan anak-anak masih menanti dia kembali.

****Tamat****

(YLA, 28/09)

Share this post :

Kegiatan / Even TKI

PSSTKI

Kajian