Berita > Cerpen Puisi
Tiga Puluh Hari TKI Mencari Cinta yang Halal
27 Sep 2016 03:57:09 WIB | Iyad Wirayuda | dibaca 6247
Ket: Mufid & Rosidah
Foto: doc/fb

Jeddah, LiputanBMI - Cinta suci itu adalah kesungguhan hati yang dibuktikan melalui janji suci untuk mencari ridha Illahi. Begitulah prinsip hidup yang dipegang teguh seorang pemuda bernama Muhammad Mufid.

Sambil duduk di ruang tunggu penerbangan Bandara King Abdulaziz, Jeddah sesekali Mufid mengeluarkan cincin di sakunya dan memandang dihiasi senyuman, yang ia bayangkan adalah saat di mana cincin itu dipakaikan ke jari manis Reni gadis pujaan hatinya.

Hari itu menjadi sebuah awal harapan untuk mewujudkan sebuah mimpi mengikat janji suci, setelah penantian panjang selama dua tahun ia pendam di negeri rantau. Langkahnya menuju tangga pesawat Garuda Airline semakin pasti dengan penuh keyaninkan 'I'm coming back just to give you my love Seriously'.

Namun manusia hanyalah bisa berencana, Tuhan jualah yang mempunyai keputusan. Pribahasa mengatakan, Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan yang apa kita inginkan.

Bukannya wajah ceria yang ditunjukan Reni, namun sikapnya begitu dingin kepada Mufid. Bahkan Reni pun menolak secara halus keinginan Mufid untuk mempersuntingnya.

"Lebih baik kita berteman saja dan mengangap kamu sebagai kakak, karena aku tak sanggup jika sesudah kita menikah kamu pergi ke Arab saudi lagi," ucap Reni yang mematahkan seluruh sendi-sendi harapan yang diimpikan Mufid.

Kecewa, bingung, bahkan hampir putus asa setelah Mufid mendengar keputusan tak terduga dari sang kekasih.

Namun Mufid bukanlah lelaki yang cengeng, meski hatinya hancur, harapannya kandas, tapi ia tetap menyimpan sejuta keyakinan. Yakin bahwa laki-laki yang baik akan mendapatkan perempuan yang baik pula. Baginya Reni bukanlah yang terbaik karena tidak mau menerima kekurangan yang dimilikinya.

Di usianya yang sudah cukup dewasa, apalagi sudah bisa mencari uang sendiri, sebenarnya ia bisa saja melampiaskan kesepiannya kepada wanita penghibur yang selalu menjajakan di tengah malam. Tapi sejak kecil Mufid dididik dalam keluarga yang religi sehingga mampu menjaga diri dalam pergaulan.

Untuk mengisi kekosongan watu liburnya, MUfid menyempatkan berkunjung ke rumah ibu tirinya. Orang tua Mufid memang sudah lama berpisah dan mempunyai ibu tiri. Namun hubungan mereka tetap harmonis.

"Eh.. A Mufid datang, Katanya kamu mau nikah yah, kapan waktunya, biar bapak kamu datang ke rumah orang tua si perempuan," tanya bu Sarnah.

Tersipu malu Mufid mendegar pertanyaan ibu tirinya.

"Gak jadi bu, dia mutusin. Katanya gak mau kalau Mufid harus berangkat lagi ke Arab Saudi," jawabnya.

"Emang kamu pulang cuti," tanya bu Sarnah penasaran.

"Iya bu, pinginya sih sekali lagi ke Arab Saudi karena belum punya rumah dan modal usaha. Kalau ada tolong ibu carikan dong calon yang pas buat Mufid," celeneh Mufid sambil tertawa kecil.

"Hmmm...nanti dech ibu carikan wanita yang baik buat kamu," seperti serius bu Sarnah menanggapi permintaan anak tiri yang diasuhnya sejak kecil.

Setelah satu Minggu berlalu, bu Sarnah memanggil Mufid kerumahnya. Rencananya Mufid akan dipertemukan dengan anak saudara bu Sarnah. Pagi itu menjadi hari ke-10 waktu libur Mufid di Indonesia.

Betul saja, bu Sarnah mempertemukan Mufid dengan gadis cantik bernama Neng Rosidah yang merupakan anak saudaranya. Cantik, manis, sopan dan memakai hijab, maklum saja Neng Rosidah merupakan anak Ajengan ternama di kampungnya yang tentunya sudah mengerti agama sejak kecil.

Dalam pertemuan itu, keduannya terlihat malu-malu. Saat ditanya tanggapan atas pertemuan pertama itu, Baik Mufid dan Rosidah hanya mengucapkan InsyaAllah.

Hubungan mereka semakin serius setelah keluarga Mufid mendatangi keluarga Rosidah.

Sebelum pembahasan kedua pihak keluarga, Mufid meminta izin untuk bicara empat mata antara dirinya dan Rosidah.

"Neng Rosidah apakah kamu yakin untuk hidup bersamaku, sementara kamu baru saja mengenalku. Jangan sampai hubungan kita karena perjodohan," tanya Mufid dengan mimik wajah yang serius.

"A Mufid, aku tidak merasa bahwa kita sedang dijodohkan. Kita hanya sedang dipertemukan oleh keluarga kita, dan itupun aku yakin bahwa ini atas kehendak-Nya. Justru cara inilah yang lebih baik menurutku, karena kita akan terlepas dari yang namanya pacaran (dosa), Insya Allah aku menerimamu karena Allah. Kesungguhanmu dan keberanianmu mengajakku ke jalan yang diridhai Allah adalah bukti bahwa kamu laki-laki yang bertanggung jawab," tukas Rosidah sambil menunduk..

Suasana mulai hening, mereka berdua terdiam sambil berhadapan. Kemudian Rosidah memandang mata Mufid memberikan pertanyaan balik.

"Lalu apakah Aa Mufid juga yakin kepadaku, siap menjadi imamku dan menerima segala kekuranganku," tanya Rosidah yang terus memandang mata Mufid.

Kemudian Mufid menjawab dengan singkat namun pasti.

"InsyaAllah, segala sesuatu yang diniatkan karena Allah pasti akan mendapat hikmah dan barokah".

Setelah perbincangan empat mata antara mereka, tak hanya pertunangan yang dilakukan oleh kedua pihak keluarga, tapi sekaligus menentukan tanggal pernikahan.

Hari yang dinanti pun tiba, tepat tanggal 12 Muharram dua sejoli itu mengikat janji suci di depan penghulu dengan tema Syar'i. Ya, mereka belum bisa ketemu sebelum proses ijab qabul antara Mufid dan Wali dari Rosidah selesai. Pernikahan mereka sangatlah sederhana, hanya dengan disaksikan sanak keluarga, santri dan santriyat. .

Setelah menjadi pasangan yang halal, kehidupan mereka begitu bahagia penuh curahan rahmat dan limpahan pahala. Mungkin itulah yang disebutkan indahnya pacaran setelah menikah.

Dua bulan waktu yang tersisa telah mereka lalui begitu singkat untuk menjalani indahnya bulan madu. Terlihat Rosidah tak ingin berpisah dari suaminya. Begitu juga Mufid yang begitu sayang dengan istri yang baru dipersuntingnya.

Bandara Soekarno-Hatta menjadi tempat di mana bahtera rumah tangga yang baru saja mereka jalani harus terpisah untuk sementara.

"Aa jangan lupa shalat dan jaga diri baik baik yah, jangan telat makan dan hati hati kalau kerja," Rosidah mencium tangan suaminya dengan berurai air mata.

"Iya Neng, kamu juga jangan tinggalkan shalat lima waktu. InsyaAllah perpisahan ini hanya sementara. Maafkan Aa harus meninggalkan neng demi masa depan kita berdua," jawab Mufid dengan balik mencium kening istrinya.

Mufid pun kemudian beranjak pergi menaiki pesawat, dengan hati yang berat ia harus kembali ke negeri petrodollar untuk membangun cita-cita dan masa depannya.



Cerita ini ditulis berdasarkan kisah nyata TKI di Arab Saudi
(IYD, 27/09)

PBBC Liputan BMI
Universitas Terbuka Riyadh