Berita > Cerpen Puisi
Ketulusan Cintaku Yang Terbalas Dusta
23 Sep 2016 02:10:58 WIB | Iyad Wirayuda | dibaca 5889
Ket: ilustrasi
Foto: Google

Jeddah, LiputanBMI - Sore itu menjadi hari terakhir antara aku dan Lina, pelukan hangat dan linangan air mata menjadi bukti betapa dua insan yang saling mencintai tak mau terpisahkan.

Dengan berat hati, aku mengantarkan istriku ke Kudai, sebuah lokasi parkiran di Kota Makkah tempat berkumpulnya TKI ilegal untuk menyerahkan diri agar ditangkap otoritas setempat, kemudian dideportasi ke Indonesia.

Usia pernikahan kami menginjak genap 2 tahun, waktu itu kami menikah secara siri di sebuh penampungan kota Jeddah. Meski menikah di perantauan, sebagai duda anak satu yang pernah mengalami kegagalan, aku berniat melanjutkan perkawinan ini sampai ke Indonesia nanti.

"Mas jika nanti aku sudah sampai di Indonesia, aku akan segera memberi kabar, Kamu jaga diri baik-baik yah, jaga kesehatan. Awas jangan nakal dan cari perempuan lain," ucap Lina sambil mencium tanganku.

"Iya sayang, mas akan segera pulang kalau sudah habis kontrak, kamu juga jaga diri baik baik yah," jawabku langsung memeluk Lina, ia pun menangis sedu dalam dekapanku.

Namun setelah sampai di Indonesia, Lina tak kunjung memberi kabar. Satu bulan berlalu, mungkin aku pikir dia masih sibuk dengan urusan keluargannya. Hingga 5 bulan lamanya, aku pikir ini sudah tidak wajar dan pasti ada sesuatu.

Aku terus berpikir bagaimana caranya agar mengetahui kabar istriku di Indonesia, sementara semua nomer Hp keluarganya di Indonesia yang ia kasih sudah tidak aktif.

Kebetulan ada Doni teman dekatku yang mau pulang ke Indonesia, aku memberikan poto kopi KTP Lina yang dulu secara diam-diam aku ambil di dompetnya dan meminta Doni mencari alamat tersebut.

Setelah tiba di Indonesia, tidak butuh waktu lama untuk Doni menemukan alamat yang dituju. Rumah Doni terbilang tidak jauh, hanya beda Kecamatan. Namun kabar yang kuterima dari Doni membuat remuk hati ini dan menganhancurkan seluruh harapan dan cita-citaku setelah mengetahui bahwa Lina ternyata mempunyai suami di Indonesia.

Mungkin inilah pribahasa sepandai-pandainya menyembunyikan bangkai, suatu saat baunya pasti tercium.

Seperti halilintar menyambar kalbu, jantungku seakan berhenti berdekat seketika saat Doni mengirimkan poto Lina bersama suaminya. Aku pun tersungkur menangis seakan tak percaya namun ini adalah kenyataan yang harus aku terima.

Aku tak mengerti, mengapa ia begitu keji dan tega melakukan ini semua. Mekhianati suaminya di Indonesia dan tega membohongiku. Padahal sebelum kunikahi, dia bersumpah tidak mempunyai suami karena ditinggal meninggal.

Aku baru sadar, disebalik kelembutan dan kasih sayangnya yang palsu, ternyata yang ia cari adalah materi dan nafsu. Terang saja, selama ini kiriman gajiku habis dikirimkan ke keluargannya untuk membuat sebuah rumah. Rumah yang katanya sebagai tempat tinggal kelak aku dan dia sudah pulang ke Indonesia.

Malam itu pula aku meminta izin ke majikan untuk pergi berumrah ke Makkah. Selesai melaksanakan tawaf dan sa'i, aku pun bersujud pasrah di depan multazam Ka'bah. Mengadukan segala beban hati dan dosa besar yang kuperbuat. Bukan soal hati yang terluka, bukan masalah kehilangan materi yang kusesalkan, namun ada yang lebih besar dari itu, tanpa sadar aku telah berbuat zina dengan istri orang, perbuatan maksiat yang paling dimurkai oleh Allah.

Ya Allah, maafkanlah hambaMu yang hina ini, hamba yang selalu lalai atas perintahMu, hamba yang selalu mengikuti hawa nafsu hingga terperdaya kecantikan seorang wanita. Ya Allah, dosaku laksana buih di hamparan lautan dan besarnya bagaikan gunung yang menjulang tinggi, masihkan ada harapan untukku kembali ke jalan yang Engkau ridhoi.

Ya Allah, maafkanlah kedua orang tuaku, jangan Engkau timpakan perbuatan dosa ini kepadannya, sesunguhya ia tidak bersalah, akulah yang bersalah ya Allah...kedua orang tuaku sudah mendidikku dengan baik dan bahkan ia selalu menasehatiku agar selalu patuh terhadap perintahMU.

Ya Allah berikan juga ampunan dan hidayah kepada istriku Lina, agar ia tidak mengulangi dosa besar sebagaimana yang telah ia perbuat denganku. Ya Allah sampaikan maafku kepada suaminya Lina, karena sesungguhnya aku tak sanggup untuk untuk memohon ampun kepadanya.".

Sahabat, semoga kisah ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Agar seorang istri yang bekerja di luar negeri meninggalkan anak suaminya tetap menjaga kehormatanya dan tetap berpegang teguh pada kesetiaan cinta sang suami dengan mengharap ridho Illahi.

Kisah ini hanya fiktif belaka, mohon maaf bila ada kesamaan nama tempat dan tokoh.
(IYD, 23/09)

PBBC Liputan BMI
Universitas Terbuka Riyadh