Berita > Cerpen Puisi
Penyesalan Seorang Istri TKI yang Tidak Mengizinkan Suaminya Poligami
05 Sep 2016 12:14:33 WIB | Iyad Wirayuda | dibaca 21151
Ket: ilustrasi
Foto: Google

Jeddah, LiputanBMI - Hati wanita mana yang tidak terluka jika mendengar suaminya menikah lagi. Begitu juga dengan Imas, wanita 29 tahun itu sangat terpukul setelah mendengar suaminya di Jeddah, Arab saudi menikah lagi. Kota Jeddah memang dikenal sebagai kota metropolitannya Arab Saudi, selain itu Jeddah juga sebagai tempat tinggalnya WNI/TKi ilegal, tak heran jika banyak pernikahan siri yang dilakukan sesama WNI di kota Jeddah.

Sama halnya dengan Eko, (suami Imas) yang dikenal pendiam dan alim pun juga melakukan nikah siri. Selama dua tahun kontrak kerja, Eko kuat menjalani cobaan dan tidak menikah, namun setelah pulang cuti ke Indonesia, ia menikahi Sarah wanita yang dikenalnya baru tiga bulan.

Meski menikah lagi, Eko yang bekerja sebagai sopir perumahan itu tidak pernah telat atau kurang mengirim uang untuk Imas dan buah hatinya yang baru berumur empat tahun. Sebagai suami yang bertanggung jawab, ia bekerja keras mencari penghasilan sampingan agar segala kebutuhan kedua istrinya tercukupi. Lagi pula, Sarah istri kedua Eko yang di Jeddah tidak begitu menuntut dalam hal materi, karena ia juga bekerja dan mempunyai gaji setiap bulannya.

Namun Imas tetap tak mengiklhaskan suaminya menikah lagi, walau kiriman uang setiap bulannya terus mengalir dan tidak pernah berkurang.

"Pokoknya saya gak iklhas jika kamu di Jeddah kawin lagi mas, sekarang silakan ceraikan aku," bentak Imas kepada Eko dalam sambungan telepon.

"Sabar mah, kamu harus mengerti posisi aku donk, dari pada zinah lebih baik aku nikah siri. nanti kalau sudah habis kontrak dan pulang, aku pun akan menceraikan istri muda," jawab Eko menenangkan Imas.

"Enak aja kamu bilang, kamu gak tau gimana perasaan aku sakitnya dimadu. Aku doain kamu di sana tabrakan bersama istri mudanya," jawab Imas dengan menutup telepon.

Sejak pertengkaran hebat itu, Imas tak mau lagi menerima telepon maupun SMS dari Eko. Bahkan suaminya itu tidak diizinkan untuk berkomunikasi dengan anak semata wayangnya.

Pepatah mengatakan ucapan adalah doa, dan rupanya apa yang diucapkan Imas terhadap suaminya menjadi kenyataan.

Dihari yang naas itu, Eko bersama istri mudanya mengalami kecelakan hebat. Mobil yang ditumpanginya tertabrak sebuah truk besar. Seketika Eko dan istri mudanya meregang nyawa di lokasi kejadian.

Ayah dan ibu Eko pun histeris menangis setelah mendapat kabar anaknya meninggal dunia. Namun dengan kesadaran bahwa semua yang terjadi adalah takdir Illahi, pihak keluarga akhirnya mengiklhaskan dan mengizinkan agar Eko dimakamkan di Arab Saudi.

Sementara Imas setelah menerima kabar suaminya meninggal, ia tidak terlihat begitu berduka, mungkin karena masih memendam kekecewaan karena di madu oleh almarhum Eko.

Setelah habis masa iddah selama empat bulan 10 hari, Imas pun dikabarkan dekat dengan seorang duda beranak satu hingga akhirnya menikah. Namun pernikahan itu rupanya tak membuat Imas bahagia, disebabkan suami barunya yang malas kerja dan berani menjual barang barang hasil kerja keras almarhum Eko.

Penyesalan mulai dirasakan Imas, ia mulai mengenang kembali almarhum Eko dan menyesali ucapannya yang dulu mendoakan Eko tertabrak. Namun penyesalan tinggallah penyesalan, setelah hampir satu tahun menikah dengan suami barunya, Imas sudah tidak punya apa-apa, motor yang dulu dibelikan EKo telah dijual suami barunya, cincin dan gelang emas hadiah pemberian Eko juga dirampas suami barunya yang suka mabuk mabukan. Bahkan rumah yang dulu dibeli hasil kerja keras Eko di Arab Saudi, sertifikatnya telah digadaikan oleh suami barunya.

Setelah tidak punya apa-apa. Imas pun pergi ke rumah orang tuanya bersama anak semata wayangnya. Di sana ia memulai kehidupan baru setelah lepas dari suami barunya.

Kabar ini pun diketahui keluarga almarhum Eko, ayah dan ibu Eko akhirnya mengunjungi Imas sekaligus menengok cucunya.

Tak kuasa menahan haru, Imas kemudian menghampiri dan memeluk ibunda almarhum Eko yang baru tiba di depan pintu.

"Maafkan Imas bu, tidak amanah menjaga harta peninggalan mas Eko," rintih Imas memeluk erat ibunda almarhum Eko.

"Sudah gak apa-apa, semoga ada hikmah dibalik ini semua," ibunda almarhum Eko mencoba menenangkan.

"Kedatangan ibu hanya mau memberikan surat yang dulu dikirim almarhum suamimu sebelum meninggal, sekaligus ini ada uang asuransi almarhum suamimu dari pemerintah dan majikannya, semoga bermanfaat. Maafkan ibu baru memberikannya sekarang," ucap ibunda almarhum Eko sambil memberikan sebuah map berisi surat dan uang asuransi.

Dalam surat tersebut almarhum Eko menuliskan kata maaf untuk Imas. "Istriku Imas, maaafkan suamimu yang telah menyakiti dan menduakanmu. Aku tahu ini menyakitkan bagi setiap istri yang suaminya menikah lagi. Asal tahu saja, di sini mas sering sakit-sakitan karena penyakit gagal ginjal, beruntunglah ada sarah, wanita yang baik dan mau mengurus mas dikala sakit. Sengaja mas tidak tidak bilang masalah penyakit ini agar tidak menjadi beban pikiran Imas dan keluarga. Jika suatu saat nanti mas sudah tidak ada lagi di dunia ini, tolong rawat anak kita dengan baik agar ia menjadi anak yang saleh".

Setelah membaca surat tersebut, Imas langsung tersungkur menangis sejadi-jadinya, menyesali perbuatanya yang selalu mengedepankan ego dan tidak memperdulikan keadaan suaminya di luar negeri.

Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf bila ada kesamaan nama tokoh dan tempat.
(IYD, 05/09)

BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
ATC Cargo
psstki