Berita > Cerpen Puisi
Maafkan Ibu (Penyesalan Herman di Penjara Breman)
30 Aug 2016 20:17:12 WIB | Jafry Aljawad | dibaca 2336
Ket: Ilustrasi seorang pria duduk dalam penjara
Foto: Google

Riyadh, LiputanBMI - Herman adalah anak bungsu kesayangan pasangan Pak Haji Sanusi dan Bu Hj. Zulaiha. Semua anak Pak Haji Sanusi telah mandiri hidupnya, ada yang bertani ada pula berdagang di pasar. Pak Haji Sanusi tergolong orang yang dihormati di kampung Cijengkol beliau tokoh masyarakat yang suka bersedekah.

Herman, si anak bungsu Pak Haji Sanusi telah menikah juga dan punya anak satu. Karena rumah Pak Haji Sanusi cukup besar dan hanya dihuni berdua, maka Herman sebagai anak bungsu tinggal serumah dengan orang tuanya. Isteri Herman yang namanya Siti mudah beradaptasi di rumah Pak Haji Sanusi sehingga mertuanya sayang sama Siti bagai anak sendiri.

Namun si Herman anak bontot Pak Haji Sanusi ini punya perangai yang beda dengan kelima saudaranya. Karena pergaulan yang tak terkontrol, Herman dari masih lajang suka berjudi dan mengkonsumsi minuman beralkohol. Dalam urusan kebutuhan rumah tangga Herman sama sekali tidak berusaha, semua ditanggung oleh orang tuanya yang tergolong kaya. Sekalipun sudah punya anak Herman belum bisa mengubah akhlaknya yang kurang baik, ia masih sering berkumpul dengan kawan-kawannya pulang tengah malam.

Suatu hari Pak Haji Sanusi kedatangan dua tamu yakni Pak Kepala Desa dan seorang polisi dari Polres yang berpakaian preman. Maksud kedatangan polisi mau menangkap Herman karena terlibat kasus shabu-shabu. Terbongkarnya nama Herman atas pengakuan temannya yang sudah ditangkap duluan.

Atas mediasi Pak Kepala Desa yang kebetulan masih famili Pak Haji Sanusi, Herman tak jadi ditangkap dengan syarat anak Pak Haji Sanusi itu harus meninggalkan desa Cijengkol dalam waktu tertentu, dan tentu saja ada uang yang dikeluarkan Pak Haji Sanusi kepada Pak polisi untuk menutup kasus Herman. Setelah ada kesepakatan dengan Pak Kades itu, maka dengan cara sembunyi Herman dibawa ke Jakarta masuk PJTKI agar menjadi TKI ke Arab Saudi.

Bu Hj. Zulaiha dan istri Herman tentu sedih bukan kepalang. Tapi apa boleh buat mungkin ini cara terbaik agar nama keluarga Pak Haji Sanusi tidak jelek di mata masyarakat. Dengan mengirim Herman ke Saudi diharapkan nantinya dia bisa berubah akhlaknya sekaligus bisa melaksanakan ibadah umrah atau haji.

Selama Herman di PT. Pak Haji Sanusi, Bu Haji Zulaiha dan Siti beberapa kali menjenguk. Bu Hj. Zulaiha selalu memberi nasehat agar Herman tobat dan mengubah perilaku buruknya. Setiap kali Bu Hj. Zulaiha menasehati, Herman cuma diam matanya menerawang sambil menghisap rokoknya.
Kini Herman telah terbang dan bekerja Saudi tepatnya di Rastanura sebuah distrik di Arab Timur yang masuk provinsi Dammam. Herman mulai menjalani kehidupan baru yang tak dibayangkan sebelumnya. Herman yang sebenarnya anak orang mampu ini harus menjadi sopir perumahan disuruh ini-itu oleh majikanya yang tidak teratur waktunya. Herman selalu teringat masa-masa senang dikampungnya tinggal dengan orang tuanya yang dari kecil dimanja ibunya sebagai anak bungsu.

Dalam menjalani pekerjaan sebagai sopir perumahan Herman sering menunjukkan sikap ketidaksukaan atas pekerjaanya itu, ia sering cekcok dengan majikan perempuan. Ia pernah ditanya majikan laki-laki kenapa demikan sikapnya, Herman malah bilang minta dipulangkan. Tentu saja majikanya tak mengabulkan karena majikanya masih butuh dan merasa telah mengeluarkan banyak uang mengurus visa.

Herman yang pintar bergaul itu akhirnya pergi meninggalkan rumah majikan tanpa pesan alias kabur ke kota metropolitan Jeddah. Di Jeddah ia cepat beradaptasi dengan lingkungan baru, hanya beberapa hari istirahat terus dapat pekerjaan, tentu atas bantuan teman.

Herman mulai merasa senang kerja di Jeddah sebagai TKI kaburan. Walaupun tak mengirim uang kepada istrinya ia tak khawatir karena orang tuanya mencukupi semua kebutuhan istri dan anaknya yang masih balita. Di kota Jeddah ini pula kebiasaan lama Herman di kampungnya yang kata ibunya harus ditinggalkan justru kambuh. Herman mulai kenal lagi perjudian. Hampir dua tahun Herman malang melintang menjalani hidup sebagai TKI ilegal di Jeddah.

Malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih kata pepatah. Suatu malam Herman tertangkap basah oleh polisi dalam satu razia atau gerebekan. Saat tertangkap ia berada di sebuah kamar dengan seorang wanita yang bukan mukhrimnya, akhirnya Herman dibawa ke penjara Breman. Setelah Herman disidik jari ketahuan pula ada laporan perbuatan tidak menyenangkan dari bekas majikannya dulu.

Disamping itu setelah ditest urinenya ketahuan juga Herman mengkonsumsi jenis obat-obatan yang dilarang di Arab Saudi. Sementara wanita yang ditangkap bersamaan dengan Herman setelah ditest urinenya ketahuan positif alias dalam kondisi hamil. Maka Herman harus mendekam di penjara Breman yang terkenal menakutkan itu, ia harus menerima cambukan seminggu sekali sambil menunggu proses persidangan di mahkamah.

Pak Haji Sanusi, Bu Hj. Zulaiha dan Siti merasa kehilangan karena hampir setahun terakhir sama sekali tak menerima kabar dari Herman. Pak Haji Sanusi dan Bu Hj. Zulaiha tak henti-hentinya shalat tahajud dan berdoa agar Herman anak bungsu kesayanganya di Arab Saudi itu selalu dalam lindungan dan petunjukNya. Siti juga bila malam tiba dan ingat suaminya selalu meneteskan air mata. Demikian juga kelima saudara Herman semua gelisah melihat nasib Herman yang tiada kabar beritanya.

Tak disangka pada suatu hari ada petugas kantor pos datang ke rumah pak Haji Sanusi membawa surat berperangko gambar pedang dan pohon kurma yakni dari Arab Saudi. Kebetulan Pak Haji Sanusi sendiri yang menerima surat itu. Setelah membuka dan membaca surat itu Pak Haji Sanusi tak kuasa menahan air matanya yang mulai membasahi pipinya.

Surat itu sebetulnya ditujukan kepada Bu Hj. Zulaiha sebagai bentuk curhatan Herman, karena selama ini memang Herman lebih dekat kepada ibunya dari pada ayahnya. Saat Pak Haji Sanusi menerima surat dari petugas pos itu kebetulan istri Herman sedang ke rumah orang tuanya. Jadi hanya Pak Haji Sanusi dan Bu Hj, Zulaiha yang ada di rumah.

Dari dapur Bu Hj. Zulaiha terkejut melihat Pak Haji Sanusi menangis sambil duduk di kursi.

“Bapak, ada apa? Apa yang membuat bapak sedih dan menangis?” kata Bu Hj. Zulaiha.
Tanpa banyak kata Pak Haji Sanusi menjawab :

"Bu, ini ada surat dari Herman dari Saudi baca sendiri saja," kata pak Haji Sanusi sambil sesenggukan.

Pun demikian Bu Hj. Zulaiha bercucuranlah air matanya dan terisak dalam tangisan setelah membaca surat dari Herman. Dalam suratnya Herman berterus terang tentang apa yang telah dilakukanya di Arab Saudi yang menyebabkan dirinya sekarang mendekam di penjara Breman.
Dalam suratnya setelah menceritakan awal mula kejadian Herman menulis :

"Ibu...maafkan ananda yang selama ini selalu mengabaikan nasehat Ibu. Ibu…maafkan pula ananda yang sejak kecil selalu merepotkan dan menyusahkan ayah dan ibu. Kini ananda ikhlas menerima hukuman di penjara Breman yang menakutkan untuk menebus perbuatan ananda yang dilarang Tuhan. Ibu…ananda mohon doa restu agar ananda kuat menjalani hukuman dunia ini. Doakan ananda ibu, agar di akherat kelak ananda tidak mendapat siksa”.

"Ibu…ananda berjanji bila telah selesai menjalani hukuman nanti ananda akan berusaha menjadi orang yang baik demi menebus kelakuan buruk ananda selama ini. Ibu, apa yang ananda alami ini jangan katakan kepada isteri dan putra ananda. Ibu, sampaikan kepada ayahanda tercinta kata maaf ananda. Tolong jaga dan rawat baik-baik isteri dan putra ananda".

Kini hari-hari Herman di penjara Breman diliputi rasa penyesalan. Ia mulai mendekatkan diri kepada Tuhan dengan rajin membaca kitab suci Alqur'an dan shalat malam. Herman berharap kepada Hakim dalam memutuskan perkaranya di pengadilan nanti bisa adil dan masih memberinya kesempatan hidup agar bisa menebus semua kesalahan yang pernah dilakukanya di masa lalu.

**Cerita ini hanya fiktif belaka jika ada persamaan nama dan kejadian itu kebetulan suatu saja.

(JWD, 30/08)

PBBC Liputan BMI
Universitas Terbuka Riyadh