Berita > Cerpen Puisi
Kisah Sedih Susi Mantan TKI Yang Dipasung Karena Depresi
04 Aug 2016 19:32:24 WIB | Jafry Aljawad | dibaca 1346
Ket: Ilustrasi : Wanita sedang dipasung karena depresi
Foto: Google

Riyadh, LiputanBMI - Susi tidak seperti para TKW pada umumnya, biasanya sepulang dari luar negeri hatinya merasa gembira berkumpul kembali dengan keluarga. Susi hanya banyak diri di rumahnya tidak keluar berbelanja ke mall atau ke pasar. Bila anaknya sudah berangkat sekolah Susi langsung ke kamar, ia keluar lagi kalau ada tamu atau tetangga datang. Susi takk pernah ngobrol dengan orang tuanya yakni Pak Karta dan Bu Karta, ia berbicara seperlunya hanya pada saat makan saja.

Hampir satu bulan di rumah sikapnya masih demikian. Sikap Susi ini menjadi tanda tanya bibinya yang bernama Wati, bibinya tersebut dulu pernah pula menjadi TKW selama enam tahun. Suatu hari saat Wati main ke rumah Susi hal demikian ditanyakan, namun dijawab dengan enteng oleh Susi :

"Masih cape Bi, sekian lama kerja di negeri onta sekarang saya mau banyak istirahat".

Setiap malam Jum'at Bu Karta selalu mengaji Alqur’an membaca surat Yaasin bersama cucunya yakni Siti anak Susi. Sementara Pak Karta sudah rutin tiap malam Jum'at berangkat ke masjid saat shalat Maghrib dan pulang nanti sehabis Isya. Pada malam itu, saat Bu Karta mengaji tiba-tiba Susi di kamarnya menangis kemudian berteriak keras menjerit menyebut nama seorang laki-laki disertai caci-maki. Mendengar suara itu Bu Karta kaget kemudian ia menuju ke kamar Susi dan menanyakan ada apa. Namun, Susi tak menjawab malah terus bicara seperti orang kesurupan. Melihat kejadian itu Bu Karta menyuruh Siti memanggil Pak Karta di masjid. Tanpa banyak tanya ini itu Siti langsung berlari memanggil kakeknya.

Sesampainya di rumah Pak Karta terkejut melihat Susi rambutnya acak-acakan bicara tak karuan dan pandangan matanya seperti orang marah. Bahkan saat Pak Karta masuk ke kamarnya mata Susi melotot dan tanganya menunjuk Pak Karta sambil berkata :

"Hei bajingan kebetulan kau datang, aku ingin mencekikmu agar kamu merasakan betapa sakit yang kualami akibat kelicikanmu".

Mendengar kata-kata itu Bu Karta menangis kebingungan, Pak Karta menenangkan keadaan dan membaca sesuatu sambil berkata :

"Susi..istighfarlah anakku, aku bapakmu".

Susi seperti mau melawan mendengar kata-kata Pak Karta itu, namun tangan Pak Karta dengan cepat memegang tangan Susi dengan tangan kiri sementara tangan kananya mengusap wajah Susi. Walaupun tadinya seperti akan melawan, pelan-pelan tenaga Susi melemah kemudian pingsan alias tak sadarkan diri.
Bu Karta semakin menjadi-jadi tangisannya melihat kejadian barusan. Pak Karta lalu membuka baju kokonya kemudian menelpon Wati agar datang ke rumahnya. Tentu saja Wati terkejut dan menanyakan apa yang terjadi pada ponakanya. Ketika Wati datang ke rumah Pak Karta, keadaan Susi belum siuman, Pak RT.yang rumahnya tak jauh dari rumah Pak Karta juga datang.

Beberapa saat kemudian Susi siuman dari pingsanya, ia terkejut bibi dan ibunya ada di sebelahnya begitu juga di ruang tamu banyak tetangga. Susi tak ingat apa yang barusan terjadi. Pak Karta mengambil segelas air putih yang konon dari kyai kampung ahli hikmat agar diminumkan kepada Susi. Setelah diminumi air putih Susi nampaknya sadar apa yang telah terjadi ia memeluk ibu dan bibinya seraya minta maaf bahwa selama ini banyak salah dan berbohong.

"Maaf Umi dan Bibi, selama ini Susi salah dan suka berbohong".

Mendengar ucapan itu Bu Karta memeluk anaknya sambil berderai air matanya.

Setelah kejadian malam itu Wati makin penasaran, lebih-lebih saat ia mendengarkan kronologi kejadian dari Pak Karta dan Bu Karta bahwa Susi menyebut nama seorang laki-laki dengan cacian dan kata-kata kasar. Wati masih mencari waktu terbaik untuk mengajak bicara Susi, namun, Susi tetap mengurung diri.

Pada malam Jum'at berikutnya Pak Karta yang biasanya ke masjid sampai selesai shalat 'Isya malam itu sengaja berjaga di rumah, alhamdulillah tak terjadi apa-apa pada diri Susi. Namun persis pada tengah malam saat Pak Karta dan isterinya tidur nyenyak tiba-tiba Susi berteriak seperti orang kesakitan dan marah :

"Sakit..sakit..hey laki-laki bajingan dimana kamu? kau tega membunuh darah dagingmu..aku ingin membalas sakitku.!".

Pak Karta yang sengaja tidur di lantai tengah rumah yang tak jauh dari kamar Susi langsung terbangun. Tapi nampaknya Susi hanya sebatas mengigau saja saat pak Karta menghampiri ke kamarnya. Pagi harinya Wati yakni bibi si Susi datang ke rumah Pak Karta menanyakan bagaimana kejadian semalam.

Pada tengah hari saat kaum laki-laki pergi ke masjid melaksanakan shalat Jum'at, Susi tiba-tiba ngamuk memecah perabotan sambil marah-marah dan memaki-maki nama seorang laki-laki sebut saja namanya Bejo. Bu Karta, Wati dan anak Susi tidak bisa mengendalikan. Baru setelah shalat Jum'at selesai, Pak Karta datang dan amukan Susi bisa diredakan.

Singkat cerita Susi benar-benar mengalami depresi dan sering ngamuk. Karena membahayakan orang lain dan terus memecah perabotan maka atas kesepakatan Pak RT dengan Pak Karta akhirnya Susi terpaksa dipasung dan ditempatkan kamar belakang.

Di desa Karang Jati kebetulan sedang ada mahasiswa dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung yang melaksanakan KKN (kuliah kerja nyata). Kabar depresinya Susi mantan TKI Arab Saudi yang dipasung terdengar oleh Reni seorang mahasiswi jurusan psikologi. Ibunya Reni ini kebetulan seorang TKW juga yang masih bekerja di luar negeri. Ibunya Reni akan berhenti jadi TKW jika Reni sudah diwisuda sebagai sarjana nanti.

Reni ingin melakukan penelitian apa yang terjadi pada Susi dilihat dari sudut ilmu psikologi agar menemukan masalah dan apa solusi untuk membantu penyembuhan Susi. Reni mendatangi rumah Pak RT menyampaikan maksud dan tujuanya datang dan meminta ijin untuk ke rumah Pak Karta. Tentu dengan senang hati Pak RT.menyambut kedatangaan Reni. Kebetulan Isteri Pak RT saudara sepupu Pak Karta. Maka diantarlah Reni ke rumah Pak Karta.

Pertama-tama Reni mengenalkan diri kemudian menanyakan beberapa hal kepada Pak Karta tentang Susi : berapa lama di Saudi, kapan pulangnya, bagaimana sikap Susi sebelum depresi, apa yang terucap dari mulut Susi saat ngamuk dan sebagainya. Semua pertanyaan Reni dijawab panjang lebar oleh pak Karta yang dibantu Wati. Reni mendengarkan dengan serius cerita Pak Karta sambil memegang buku dan polpen untuk mencatat hal penting tentang Susi. Setelah Pak Karta selesai bercerita kemudian Reni bilang :

"Pak , bolehkah saya melihat HP Teh Susi yang dibawa dari Saudi?".
"Oya iya Neng boleh, nggak apa-apa", jawab Pak Karta.
Tanpa disuruh, Wati mengambil HP Susi kemudian diberikan pada Reni.

"Maaf Pak ya, saya periksa nomor-nomor serta gambarnya?", kata Reni.
"Silakan Neng dilihat nggak apa-apa kok", jawab Pak Karta.

Reni mencermati nomor-nomor HP Susi hampir semua masih nomor Saudi. Kemudian Reni membuka gallery, foto-fotonya juga hamper semua foto saat Susi masih di Saudi. Kemudian Reni memeriksa SMS, disitu situ masih ada SMS yang belum dihapus. Reni memeriksa tanggalnya kurang lebih dua bulan lalu dikirimnya dan itu nomornya Indonesia. SMS itu berbunyi :

"Susi ini aku Yanti, aku sudah sampai di Indonesia. Kudoakan kamu cepat terbang tak lama di tarhil. Kalau sudah di Indonesia tolong telpon aku agar kita bisa bermain dan bertemu lagi".
Nomor di SMS inilah yang jadi perhatian Reni. Kemudian Reni minta ijin ke Pak Karta untuk memfoto Susi ke belakang. Reni tak kuasa menahan air matanya melihat kondisi Susi sepulang dari Saudi dipasung karena depresi. Susi ingat ibunya yang masih menjadi TKW. Dalam hati Reni berdoa semoga ibunya tak bernasib seperti Susi.

"Pak untuk membantu penyembuhan Teh Susi harus diketahui latar belakang masalahnya selama di Saudi. Saya akan mengorek keterangan dari kawanya", kata Reni kepada Pak Karta.

Saat itu juga Reni menelpon kawan Susi yang bernama Yanti kebetulan nomornya sama-sama IM3 jadi lebih murah. Dengan kepandaianya berkomunikasi Reni bisa mengetuk hati dan meyakinkan Yanti. Pertama, Reni menceritakan kondisi Susi kemudian mengirim foto Susi terkini yang lagi dipasung. Tempat tinggal Yanti ternyata masih satu kabupaten dengan Susi cuma beda kecamatan walaupun jauh jaraknya. Reni meminta dengan sangat agar Yanti sudi datang ke rumah Susi. Yanti iba mendengar sahabatnya yang sama-sama menjadi TKW kaburan dan tinggal sepenampungan itu kini dipasung karena depresi. Yanti menyanggupi datang esok hari ia akan berangkat pagi-pagi dengan naik motor agar cepat, perjalanan diperkirakan memakan waktu dua sampai tiga jam.

Saat Reni menelpon Yanti suaranya dilouspeaker jadi Pak Karta, Wati dan Bu RT bisa mendengar dengan jelas. Semua merasa senang akan memperoleh keterangan dari Yanti tentang apa yang menimpa Susi selama di Saudi. Memang sejak kepulanganya Susi tak pernah cerita apapun kepada orang tuanya. Setelah itu Reni dan Bu RT.pamit kepada Pak Karta dan berjanji esok hari akan datang lagi untuk mengorek keterangan Yanti.

Pagi hari kira-kira pukul 09.00 Reni dan Bu RT sudah di rumah Pak Karta, tak berapa lama Yanti menelpon bahwa ia sudah dekat desa Karangjati. Saat sedang ngobrol, terdengar suara motor berhenti di depan rumah Pak Karta, maka Wati, Reni dan Bu RT keluar rumah mereka semua menduga yang datang Yanti. Betul juga, setelah mengucapkan salam Yanti memperkenalkan diri dan terus dibawa ke dalam rumah.

"Teh, mana Susi? saya ingin segera melihatnya", kata Yanti.
"Nanti juga akan melihat, sekarang duduk dan istirahat dulu", jawab Wati.
Setelah Yanti minum teh manis dan ngobrol ringan Reni bilang :
"Ayo Teh Yanti kita sama-sama melihat Susi ke rumah belakang".

Saat Yanti datang tiba-tiba mata Susi terbelalak meronta ingin melepaskan pasungan sambil berkata :
"Mana...mana Bejo laki-laki bajingan itu aku ingin membalas sakitku!".
Kata-kata itu diucapkan berulang-ulang. Yanti menangis mendengar kata-kata sahabatnya yang depresi itu. Yanti berjongkok dan mendekat Susi. Mata Susi masih terbelalak garang.

"Susi...ini aku Yanti sahabatmu dalam suka dan duka selama di Saudi", kata Yanti sambil menahan tangisan.

"Susi…aku sahabatmu datang sayang, istighfarlah aku akan menemanimu", kata Yanti lagi.

Sedikit demi sedikit ekspresi kemarahan jiwa Susi melemah. Yanti makin mendekati Susi mengecup dan memeluk Susi sambil berucap:
"Susi..aku Yanti sahabatmu..sabar dan istighfar aku bersamamu lagi".

Mata Susi meredup lalu terpejam kemudian pingsan. Yanti yang tahu suka duka dan permasalahan Susi selama di Saudi menangis tersedu-sedu memeluk sahabatnya itu. Bu RT, Reni, Wati, Pak Karta dan isterinya tak kuasa ikut meneteskan air mata.

Siang itu atas saran Reni pasungan Susi dilepaskan dan Susi dipindah ke kamar tidurnya. Setelah siuman Susi dimandikan dan diganti pakaianya. Namun, Susi belum banyak bicara ia seperti lupa-lupa ingat kepada Yanti. Atas inisiatif Reni, Pak Karta memanggil dokter Puskesmas yang kebetulan sedang melakukan Posyandu di desa itu agar memberikan suntikan dan obat penenang kepada Susi.

Yanti memang sengaja menginap di rumah Pak Karta ingin menemani Susi sahabatnya yang tertimpa musibah kejiwaan itu. Malam harinya saat Susi tidur pulas, Reni, Wati, Bu RT mengajak ngobrol Yanti agar menceritakan apa yang dialami Susi selama di Saudi. Reni membuka catatan cerita dari Pak Karta sewaktu Susi mulai depresi.

Reni si mahasiswi jurusan psikologi yang sedang KKN di desa Karangjati mengawali pertanyaan :

"Teh Yanti, siapakah itu Bejo nama yang sering disebut Susi sebagai laki-laki bajingan, penghianat dan tega membunuh darah daging sendiri?”.
"Si Bejo itu bekas pacar Susi", jawab Yanti.
"Berapa lama dia pacaran dan bagaimana akhir cintanya, kok sampai Susi sulit melupakan sakit hatinya dan mencaci sebagai bajingan?", tanya Reni lagi.
Yanti menghela nafas dan berkata :

"Agak lama juga pacarannya dan Bejo berjanji akan menikahi Susi setelah di Indonesia, tapi tiba-tiba menjelang Susi pulang terjadi peristiwa malam Jum'at yang menyedihkan".

"Malam Jum'at yang menyedihkan gimana masksudnya?", tanya Reni.
Yanti menelan ludah dan matanya berkaca-kaca kepalanya menunduk sepertinya enggan bicara.
Kemudian Wati berkata :

"Yanti tolong ceritakan apa adanya, biar kami sebagai keluarga tahu yang dialami Susi sebenarnya. Kami akan mendengar walaupun pahit kenyataanya".

Lalu Yanti berkata :

"Hari itu Kamis malam Jum'at kami pada ngumpul karena ijazah. Biasanya Susi wajahnya gembira tapi kali ini kelihatan murung dan sedih. Kami sebagai kawan sepenampungan menanyakan ada masalah apa. Kemudian Susi curhat, bahwa Susi sudah tidak haidl selama tiga bulan dan bulan ini masuk bulan keempat. Susi berusaha meminta pertanggun jawaban Bejo, tapi pacarnya selalu menghindar dan tak mau datang ke penampungan seperti biasanya".

Yanti berhenti sejenak bercerita dan minum teh manis, kemudian melanjutkan :

"Pada hari Kamis berikutnya saat ijazah Susi tak enak badan alias sakit. Susi pulang lebih awal ke penampungan. Susi menghubungi Bejo agar datang membicarakan mengenai telatnya datang bulan yang sudah masuk bulan keempat. Akhirnya Bejo datang sekitar pukul 10 malam dengan membawa obat. Bejo meminta agar Susi minum obat dua sekaligus dan dalam tempo satu jam berikutnya supaya minum dua lagi. Kemudian Bejo pergi karena pekerjaan belum selesai, Bejo berjanji waktu tengah malam nanti akan datang lagi”.

“Saat kami datang ke penampungan Susi sedang tiduran karena lagi tak enak badan, ia menceritakan bahwa barusan Bejo datang dan berjanji akan datang lagi. Tunggu punya tunggu sampai pukul 02.00 dini hari Bejo nggak datang, hati Susi gelisah telpon Bejo tak diangkat".

"Malam itu Susi perutnya sakit, mulas-mulas seperti kepingin kencing dan buang air besar, lalu Susi ke kamar mandi. Tiba-tiba kami mendengar suara Susi menjerit dan mengerang kesakitan. Kami bertiga bergegas melihat apa yang terjadi pada Susi. Kami lihat Susi tak ada di kamarnya, lalu kami ke kamar mandi yang pintunya tak terkunci. Saat pintu dibuka kami dapati Susi….". Yanti menghentikan ceritanya dan mengusap air mata yang mulai membasahi pipinya.

Dengar suara pelan karena larut dalam kesedihan bibi Susi yakni Wati berkata :

"Apa yang terjadi pada Susi di kamar mandi saat itu Yanti?".

"Saat kami buka pintu, Susi dalam keadaan tak sadarkan diri alias pingsan karena pendarahan. Lantai kamar mandi penuh simbah darah berwarna merah kehitam-hitaman bergumpal yang keluar dari rahim Susi", jawab Yanti sambil sesenggukan menahan tangisan.

"Susi lalu kami angkat ke kamar tidurnya dan kamar mandi langsung dibersihkan karena bau darah itu bikin kami mual. Kami panik dan khawatir jika nasib buruk akan menimpa Susi sebab para penghuni penampungan itu adalah TKI tak berdokumen resmi, kalau ada apa-apa pasti kami yang diciduk polisi", kata Yanti.

"Malam itu kami menelpon Bejo lagi tapi HPnya tak aktif, kamipun ikut kesal. Semalaman kami tak tidur dan berdoa agar Susi segera siuman dari pingsanya. Kami memberikan pertolongan sebisanya sebab mau membawa ke rumah sakit tak punya iqamah, lagian sakitnya Susi akibat pendarahan nanti kami kerepotan banyak pertanyaan. Namun alhamdulillah saat terbit matahari Susi siuman", kata Yanti.

Yanti melanjutkan ceritanya :

"Saat Susi siuman ia mengusap-usap perutnya dan menanyakan apa yang terjadi pada dirinya, kenapa kamar tidurnya ada bekas darah. Kami sedih melihat wajah Susi saat itu kelihatan pucat pasi”.

"Setelah Susi pulih kesehatanya ia banyak melamun dan mengurung diri. Tak lama kemudian ingin segera pulang agar cepat meninggalkan penampungan yang penuh kenangan pahit dalam hidupnya. Kami bertiga sama-sama menyerahkan diri ke tarhil untuk proses kepulangan. Susi sempat mengatakan bahwa kemungkinan obat yang diberikan Bejo tempo hari itu adalah obat penggugur kandungan. Inilah yang membuat sakit hati Susi pada Si Bejo”.

Ada kejadian sekali selama di tarhil, pada malam Jum'at tengah malam. Saat itu tiba-tiba Susi seperti orang kesurupan, dengan nada marah mencaci maki mantan pacarnya yakni Si Bejo. Penghuni tarhil tak tahu latar belakang Susi, mereka hanya mengira Susi stress saja karena baru kali ini merasakan suasana dalam penjara/karantina.

Kebetulan saya dapat panggilan terbang duluan. Saat kami mau berpisah kami berpelukan Susi tak kuasa menahan air mata sambil berkata :

"Makasih Yanti atas bantuan kamu selama ini disaat aku dapat musibah, aku nggak bisa melupakan kebaikanmu. Insya Allah setelah di Indonesia kita ketemu lagi". Makanya setelah kami sampai di Indonesia langsung SMS Susi saat Susi masih di tarhil.
Tak terasa Yanti bercerita sudah sampai pukul 23.00, maka Reni berpamintan pulang kebetulan di luar motor jemputan sudah datang.
(Jaf)

(JWD, 04/08)

BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
ATC Cargo
psstki