Berita > Cerpen Puisi
Bunda, Kuingin Kau Pulang, Biar Anakmu Tidak Jadi Rebutan
03 Jul 2016 19:16:38 WIB | Yully Agyl | dibaca 1675
Ket: ilustrasi
Foto: kekopedia.com

Taipe, LiputanBMI - Seandainya waktu ibu pamit pergi kerja ke luar negeri, aku telah mengerti maksudnya, pasti akan kularang. Ketika itu, aku masih sekolah taman kanak-kanak. Adik baru berusia tiga tahun. Kami masih terlalu kecil untuk mengerti masalah orang tua.

Aku hanya ingat, ibu berkata,"Ibu akan mencari uang yang banyak, biar bisa membangun rumah, beliin susu adik, buat sekolah kakak dan beliin coklat yang banyak," dan aku hanya mengiyakan.

Awal-awal kepergian ibu, aku biasa-biasa saja. Kami (aku, bapak dan adik) tinggal di rumah kontrakkan, juga nenek dari bapak yang akhirnya mengurus kami, masih ditambah adik bapak.

Bagi anak seusia kami, asal perut kenyang, ada jajan sudah cukup. Belum genap satu tahun keberangkatan ibu, rumah kontrakan kami mulai penuh barang baru. Kursi baru, kulkas, tempat tidur baru, alat masak, bahkan bapak juga beli motor baru.

Tentu saja aku merasa senang, apalagi aku juga dibelikan sepeda mini yang cantik, tas bagus semua kiriman dari ibu. Sampai suatu hari datang seorang perempuan bersama bapak.

"Siapa dia, Nek?" tanyaku.

"Teman bapak kamu," jawab Nenek.

"Kok tidur bareng bapak? Kok aku dan adik tidak boleh tidur bersama bapak?"

"Hust... anak kecil jangan banyak tanya!" hardik nenek.

Sejak saat itu perempuan baru Bapak hidup bersama kami. Bapak terlihat bahagia. Aku di minta memanggil "Mama" kepada perempuan itu.

"Pak, Mama itu ibu kan?" tanyaku polos.

"Iya, kenapa?"

"Lha ibuku kan Bu Lis, bukan dia. Yang melahirkan aku sama adik, juga menyusui."

"Udah menurut aja sama bapak."

Sejak saat itu aku memanggil perempuan itu Mama. Walaupun dia baik kepada aku dan adik, hatiku hambar. Yang paling kubenci, aku harus sering berbohong ketika ibu telepon. Semua atas suruhan bapak, kadang juga nenek.

Waktu terus berlalu. Ketika tiba masuk Sekolah Dasar, aku meminta ke ibu untuk sekolah di kampung dan tinggal dengan nenek dari ibu yang biasa aku panggil Emak.

"Bu, pokoknya aku mau SD-nya di emak. Dekat dengan rumah," kataku ke ibu di telepon.

"Benar? Wah, Emak pasti senang banget, Nduk," jawab ibu dengan nada riang.

"Tapi ibu yang bilang ke Bapak ya?"

"Iya, ibu yang bilang."

Aku senang sekali. Walaupun saat itu masih kecil, aku sudah bisa rasakan kecewaan ke Bapak atas perbuatannya. Aku ingin sekolah di kampung, karena tidak suka dengan perempuan yang telah merebut bapak dari kami.
Kemauanku terkabul. Sedih rasanya karena harus berpisah dengan adik.

*****
Satu kontrak kerja yaitu tiga tahun, ibu pulang. Aku sudah kelas 2 SD. Aku dan keluarga dari ibu yang menjemput. Bapak dan adik tidak tahu ibu pulang.

Sehari kemudian, kami (aku, Ibu, Emak) mengunjungi adik di rumah kontrakan itu. Ibu menangis sambil memeluk adik. Adik yang semula kebingungan dan takut, akhirnya lengket ke ibu dan tidak mau pisah. Aku ikut terharu.

Selama apapun perpisahan ibu dan anak, ikatan batin tidak bisa terpisahkan. Adik ikut pulang ke rumah emak. Binar-binar bahagia tersirat di wajahnya. Akupun tak kalah bahagianya. Walau aku tahu, ibu pulang hanya untuk cuti.

Dalam hati aku bertanya, kemana Bapak dan perempuan itu? Kenapa bapak tidak menemui ibu?
Aku memang pendiam, tapi bukan tidak mengerti. Aku merekam semua yang pernah terdengar dan terlihat tentang bapak. Tetapi tidak berani mengungkapkan ke ibu. Aku yakin ibu telah tahu semua walau dia tidak berkata-kata.

Masa cuti ibu yang hanya satu bulan, terasa cepat. Walau harus ditinggal ibu lagi, ada bahagia karena adik berkumpul kembali denganku.
Bapak...entah ke mana dia.

*****
Ternyata... bahagia kami tidak berlangsung lama. Baru lima bulan ibu berangkat, bapak datang. Aku dan adik di paksa ikut ke rumah nenek dengan alasan untuk menjenguknya. Tetapi kenyataannya semua meleset. Bapak menghendaki aku dan adik ikut mereka lagi.

"Tidak! Aku tidak mau! Aku mau tetap sekolah di kampung, tinggal dengan Emak!" bantahku tegas.

"Lha kan kasihan adik, Nia," jawab perempuan itu.

"Kan adik sudah disekolahkan di sana juga. Pokoknya aku tidak mau di sini!"

"Ya sudahlah Mas, adik saja yang di sini. Walau adik yang di sini, uang Lis pasti jatuh juga untuk jatah dia. Kan lumayan," kata perempuan itu yang sempat terdengar aku.

Ternyata mereka hanya ingin uang ibu.
Karena rasa takut kalau aku tetap di paksa, aku jatuh sakit. Akhirnya mereka menyerah. Aku kembali ke Emak. Aku sakit beberapa hari.

Sejak saat itu, aku dan adik hanya bisa bertemu sesekali, kalau bapak mau menjemput atau mengantar adik.
Emak, ibu bukan tidak mau meminta adik, tetapi sikap keras kepala bapak yang membuat mereka mendiamkan.  Karena takut, aku akan di bawa serta. Setiap kali aku pulang dari menjenguk adik, aku selalu sakit.
Keadaan adik di sana, sangat jauh dengan keadaanku. Apa yang kumau tersedia.
Sedang adik, terlihat tidak terurus dan kurus.

Bapak, andai kau tahu isi hati anakmu. Andai kau ingin anakmu senang, bahagia, kenapa kau pisahkan aku dan adik. Kenapa kau bagi sayangmu untuk orang lain. Apakah kau tak tahu?  Aku takut kelak karmamu menimpaku.
Dimanakah nalurimu?

Ibu... aku tahu sakit hatimu. Kecewa dengan sikap bapak, yang kau tutupi dengan senyum. Kau tidak pernah mengatakan apa-apa, selain ingin membuat anakmu bahagia.
Tapi, Bu, anakmu akan lebih bahagia bila kau bersama kami. Berkumpul kembali.
Kuingin, setelah kontrakmu ini kau kan terus kembali dan tidak akan pergi lagi. Agar anakmu tak menjadi seperti barang yang di ambil, di taruh sana sini semaunya.
Karena kalau kau ada, mereka tidak akan berani.
Ibu, inilah kata hati anakmu.
Aku dan adik, merindukan kebersamaan itu.

*****TAMAT****

Cerita hanya fiktif belaka, bila ada kesamaan kisah itu adalah kebetulan.
(YLA, 03/07)

PBBC Liputan BMI
Universitas Terbuka Riyadh