Berita > Cerpen Puisi
Aku Menangis di Depan Ka'bah Mengakui Selama ini Berada di Jalan Yang Salah
23 Jun 2016 04:08:19 WIB | Jafry Aljawad | dibaca 2154
Ket: Ilustrasi : TKW Menangis di depan Ka'bah
Foto: LiputanBMI

Riyadh, LiputanBMI - Namaku Dewi sudah enam tahun aku malang melintang menjadi TKI kaburan di Jeddah. Saat ini status perkawinanku adalah janda beranak satu. Aku sudah mengikuti program repatriasi jilid I akhir tahun 2015 lalu tapi hingga kini belum dapat exit karena belum bisa bayar denda. Aku terima saja semua kesulitan yang kuhadapi sekarang ini mungkin ini hukuman bagiku. Aku tidak berkata latah menyalahkan pihak safarah atau pemerintah, mungkin ini akibat langkahku selama ini yang berada pada jalan yang salah.

Ketika aku masih gadis belia berumur 15 tahun aku diminta orang tua agar berangkat ke Saudi menjadi TKW. Tentu saja aku senang sambil berkhayal bisa mencari uang. Alhamdulillah berkat doa orang tua aku mendapat majikan yang baik. Aku dapat visa di Riyadh dan majikanku tinggal di amarah bukan rumah besar anaknya baru dua, Majikan wanita seorang guru dan majikan laki pegawai perusahaan, tiga tahun aku bekerja pada majikan itu.

Sebenarnya aku ingin nambah kontrak biar bisa membantu orang tua memperbaiki rumah dan mempunyai gadean sawah, tapi aku disuruh orang tua pulang. Sesampai di kampung halaman tidak lama kemudian aku dijodohkan orang tua dengan pemuda pilihan orang tuaku. Sebagai tanda bakti dan ingin membahagiakan hati kepada orang tua, aku terima saja keinginan orang tuaku itu.

Tiga tahun menjalani kehidupan rumah tangga aku dikarunia satu orang anak berjenis kelamin wanita. Saat anakku berusia dua tahun kondisi ekonomi keluarga kurang baik, maka aku minta ijin suami untuk berangkat ke Saudi, begitu juga aku minta doa restu kedua orang tuaku. Baik suami maupun orang tua mengijinkan dan anakku diurus oleh orang tuaku.

Semua proses di PT. berjalan lancar dan dapat visa di bagian timur Saudi tepatnya di kota Dammam. Majikanku sebetulnya tidak jahat cuma rumahnya besar berlantai dua anaknya enam. Ini berbeda jauh dengan apa yang kualami sewaktu bekerja di Riyadh dulu. Tapi soal gaji lancer dan sikap majikan sebenarnya tidak jahat. Enam bulan kujalani pekerjaan pada majikan ini aku mulai banyak kenalan kawan baik lokal di Dammam ataupun yang jauh di Riyadh dan Jeddah lewat media sosial.

Setelah banyak kawan aku mulai tergoda untuk kabur ke Jeddah di sana katanya gaji besar, bisa libur dan bisa ketemu kawan tiap minggu di penampungan. Seiring pikiran yang mulai tergoda untuk kabur, kerjaku mulai nggak benar dan majikan sering marah. Disaat pikiranku kacau begini suamiku sering telpon minta kiriman uang. Sampai setahun aku bekerja pada majikan ini kemudian aku kabur, kebetulan sudah ada kenalan sopir Indonesia yang siap menjemput dan mencarikan kendaraan ke Jeddah. Pada malam hari menjelang waktu fajar aku keluar dari rumah majikan, diluar sudah ada yang menunggu karena sudah janjian.

Ternyata aku tidak langsung diantar ke kendaraan yang akan membawaku ke Jeddah seperti yang dikatakan semula. Aku dibawa ke kamar sopir itu selama tiga hari baru dicarikan mobil yang akan membawaku ke Jeddah. Pikiranku bertambah kacau terbayang dosa yang kulakukan karena aku tidur dengan laki-laki yang bukan suamiku.

Sesampai di Jeddah akupun tidak langsung kerja, beberapa hari aku menunggu di penampungan Pak Mas'ul. Di Jeddah, kota yang baru kutinggali ini aku mulai banyak kenal kawan baik laki maupun perempuan, kebetulan aku datang pada hari Kamis malam Jum’at disaat para TKW kaburan ijazah. Aku langsung bisa beradaptasi dengan lingkungan asrama atau penampungan TKI kaburan.

Sopir yang menjemputku waktu aku kabur dan tiga hari tidur bersamaku dulu tidak memutuskan komunikasi, dia sering telpon dan menanyakan kabar. Puncak dari hubungan itu dia memutuskan untuk kabur juga menyusulku ke Jeddah.

Sementara itu hubunganku dengan suami mulai renggang sampai puncaknya aku nekad minta diceraikan. Aku beralasan biar tidak dayus dan nanti kalau ada jodoh nikah lagi setelah aku pulang. Tadinya orang tua dan suamiku marah, tapi pada akhirnya menyerah dia menceraikanku dengan berkata langsung kepada orang tuaku sebagai wali saat nikah kemudian mengirim SMS kepadaku.

Benar juga sopir yang dulu sempat tidur bersamaku itu kabur menyusulku ke Jeddah. Setelah dapat kerjaan akhirnya dia memintaku untuk menikah saja. Orang tuaku lagi-lagi tadinya menolak dan marah, tapi dengan alasan takut zina akhirnya dia mengijinkanku menikah di depan penghulu swasta Jeddah.

Kehidupan rumah tangga di perantauan sebagai suami istri yang bekerja beda majikan membuat hubungan kami tidak harmonis. Lebih-lebih suamiku setelah banyak bergaul di Jeddah ada gejala ketidak jujuran alias selingkuh. Akhirnya rumah tangga kami hanya bagai mimpi kandas lagi. Suamiku sudah dapat ganti alias menikah lagi dengan TKW kaburan lain sementara aku menyendiri tapi berhubungan dengan lelaki lain tanpa ikatan.

Hampir enam tahun aku menjalani kehidupan sebagai TKW kaburan di kota Jeddah dengan penuh kebebasan terutama saat liburan, aku sudah beberapa kali berganti pasangan. Aku mulai sadar dan insyaf ingin mengakhiri petualanganku sebagai TKW kaburan. Pada pertengahan bulan Oktober 2015 aku dengar kabar ada program repatriasi atau pemulangan gratis dari pemerintah untuk TKI Ilegal.

Terdorong ingin menjadi manusia yang baik dan ingin mengakhiri petualangan sebagai TKW kaburan, aku memutuskan untuk pulang dengan ikut program repatriasi. Tapi ternyata prosesku tak semudah yang kubayangkan, aku berbeda dengan kawan-kawan TKI yang lain. Permasalahanku adalah, aku dulu masuk ke Saudi lewat visa Bahrain kemudian dibawa ke Dammam (Saudi) dan belum dibuatkan iqamah. Kata petugas safarah aku harus bayar denda SR 15.000, pemerintah tidak membiayai pembayaran denda cuma membelikan tiket pesawat saja.

Pikiranku kacau lagi terjadi perang bathin antara ingin tetap pulang dan bertobat atau kepalang menjadi manusia rusak moral sekalian dengan tetap berpetualang sebagai TKW kaburan.

Sejak bulan Nopember 2015 aku kembali bekerja lagi sebagai TKW kaburan aku ingin mengumpulkan uang untuk membayar denda. Sampai ada program repatriasi jilid II ini ternyata uang yang kukumpulkan belum cukup untuk membayar denda.

Kini aku pasrah tapi tetap berusaha. Sambil menunggu kumpulnya uang, beberapa kali aku melaksanakan umrah ke baitullah. Aku sadar mungkin segala kesulitan dan keruwetanku ini akibat perbuatanku sendiri, maka aku harus ikhlas menerimanya. Saat berada di baitullah aku menangis mengakui segala dosa-dosa yang kuperbuat dan bersimpuh mohon ampunan kepada Allah. Aku mengaku dan menyesal bahwa selama ini berada pada jalan yang salah.

Sebelum aku pulang ke tanah air, aku ingin mohon ampun kepada Allah. Aku ingin meninggalkan tanah suci yang pernah kukotori ini dengan bertobat dulu kepada Allah. Andaikan sampai bulan haji atau Idul Adha nanti aku belum pulang aku nekad akan pergi beribadah haji. Aku nekad dan pasrah mau dipenjara atau diapakan terserah jika ketangkap petugas, tapi aku sudah ada kemauan ikut program repatriasi, cuma belum bisa membayar denda.

Di bulan suci Ramadlan tanggal 17 yang merupakan nuzulul qur’an ini aku pergi tawaf ke baitullah berdoa dan memohon ampun kepada Allah :

Ya Allah ampunillah hambaMu yang hina dan penuh noda ini. Ya Allah hamba mengaku sebagai manusia penuh dosa sehingga tak pantas masuk sorga, tapi Ya Allah hamba tidak akan kuat menahan siksa di neraka.

Ya Allah berilah hamba jalan keluar dan kemudahan untuk pulang agar bisa bertemu dengan orang tuaku untuk meminta maaf dan mengasuh anakku.


(JWD, 23/06)

BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
BNI Saudi Arabia
jambore keluarga migran 2018
ATC Cargo
psstki