Berita > Seputar TKI
Kisah Pilu di Arab Saudi: Bayi WNI Tertahan di RS Karena Tak Ada Biaya
07 Jul 2018 01:15:51 WIB | Iyad Wirayuda | dibaca 1070
Ket: Rizki Ramadan
Foto: Heraln Iren/Doc Fb
Jeddah, LiputanBMI - Kisah pilu tengah dirasakan Nuryana dan Onasih pasangan suami istri asal Subang, Jawa Barat yang kini harus rela terpisah dengan sang buah hati yang masih tertahan di Rumah Sakit Jeddah National Hospital lantaran terkendala biaya persalinan.

Bayi laki-laki yang diberi nama Rizki Ramadan itu lahir pada 5 Juni 2018 secara prematur dan mendapat perawatan intensif dengan bantuan alat inkubator.

"Setelah lahir anak saya harus dirawat pakai alat inkubator dengan biaya perharinya SR 2500. Itulah yang membuat kami tidak mampu untuk membayar," ujar Nuryana saat ditemui LIputanBMI seusai melakukan penggalangan dana, Jumat (6/7/2018) pagi.

Sebelum sang buah hati lahir, lanjut Nuryana, dia dengan sang istri sudah menyiapkan biaya persalinan sebesar SR 10 ribu. Namun dana tersebut tidak cukup dengan kondisi bayi yang lahir secara prematur.

"Saya sudah bayar biaya persalinan sebesar SR 13 ribu dari jumlah SR 50 ribu yang dibebankan pihak rumah sakit," terangnya.

Untuk menutupi kekurangan biaya tersebut, Nuryana mengaku dibantu aktivis SBMI Jeddah melakukan penggalangan dana kepada masyarakat Indonesia di Jeddah. Menurutnya, pihak KJRI Jeddah juga sudah memberikan pendampingan untuk meminta pihak rumah sakit agar memberikan keringanan. Dari hasil lobi tersebut, biaya yang semula dibebankan berkurang menjadi SR 30 ribu.

"Dalam dua minggu ini saya dibantu aktivis SBMI melakukan penggalangan dana kepada masyarakat Indonesia. Alhamdulillah dan terimakasih sudah banyak yang peduli," imbuhya.

Secara terpisah, Koordinator Pelayanan Warga (KPW) KJRI Jeddah, Safaat Gofur mengatakan pihaknya akan kembali melakukan pendampingan WNI untuk meminta kembali keringanan biaya.

"Kami yakin angka tersebut belum final, mudah-mudahan masih bisa berkurang. Kita akan coba kembali mendatangi pihak rumah sakit agar biaya yang sudah terkumpul dapat melunasi biaya persalinan," papar Safaat yang juga merangkap Pelaksana Fungsi Konsuler-1.

Safaat mengaku kagum dengan masyarakat Indonesia di Jeddah yang mempunyai kepedulian dan solidaritas tinggi sesama WNI. Dia berharap kasus tersebut menjadi pelajaran bagi WNI lainnya terutama WNI overstayer yang hamil untuk rutin memeriksa kondisi kandungan dan mempertimbangkan proses persalinan di Arab Saudi.

"Biaya persalinan di rumah sakit swasta tentunya sangat mahal. Terutama bagi WNI overstayer yang mempunyai keterbatasan agar kalau bisa melahirkan di Indonesia saja," pungkasnya.
(IYD/IYD, 07/07)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
BNI Saudi Arabia
ATC Cargo
psstki