Berita > Ekosospol
KBRI Kuala Lumpur Keluarkan Edaran Larangan WNI Berpolitik Praktis di Malaysia
10 Jun 2018 16:45:21 WIB | Figo Kurniawan | dibaca 1088
Ket: Edaran KBRI Kuala Lumpur
Foto: KBRI KL
Kuala Lumpur, LiputanBMI - KBRI Kuala Lumpur mengimbau seluruh WNI yang berada di Malaysia untuk tidak melakukan kegiatan politik praktis dalam bentuk apa pun terkait pemilu Indonesia 2019, termasuk mengeluarkan ujaran kebencian, berita hoax yang berbau politik di media massa maupun media sosial dan penggunaan atribut politik (kaos, spanduk, bendera, dll).

Dalam surat edaran resmi yang dikeluarkan KBRI Kuala Lumpur, Minggu (10/6/2018) disebutkan, seluruh WNI di Malaysia dimohon mematuhi larangan tersebut untuk menghindari denda dan/atau sanksi oleh Pemerintah Malaysia.

Hal ini merujuk pada ketentuan perundang-undangan di Malaysia, yaitu Akta Perhimpunan AMAN 2012 (AKTA 736) yang mengatur tentang larangan melakukan kegiatan politik bagi WNA di Malaysia.

Seksyen 4 Akta tersebut menyebutkan, seseorang dianggap melakukan kesalahan jika:

a.Sebagai bukan warga negara, dia menganjurkan atau menyertai perhimpunan (perkumpulan)

b.Dia menganjurkan atau menyertai suatu perhimpunan yang diadakan di mana-mana tempat larangan dan dalam jarak 50 meter dari had (batas) tempat larangan, atau

c. Dia menganjurkan atau menyertai suatu protes jalanan.

Bagi pelanggar ketentuan Seksyen 4 tersebut dapat dijatuhi hukuman denda maksimal RM 10.000 (sekitar Rp 30 juta).

Selain itu, surat edaran yang dikeluarkan KBRI Kuala Lumpur juga merujuk pada persyaratan dan larangan bagi WNA pemegang Pas Lawatan Kerja Sementara (PLKS) atau permit masuk/permit kerja di Malaysia.

Sebagaimana tertuang dalam instruksi Ketua Pengarah Imigresen (Dirjen Imigrasi) Malaysia, WNA di Malaysia (termasuk WNI) dilarang menganggotai (menjadi anggota), menyertai, dan melibatkan diri dengan cara apa sekalipun dalam pertubuhan politik.

Pelanggaran terhadap larangan tersebut akan mendapat sanksi pembatalan PLKS (permit kerja).



(FK/FK, 10/06)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
BNI Saudi Arabia
ATC Cargo
psstki