Berita > Cerpen Puisi
Air Zamzam Sembuhkanku Dari Guna-Guna Suami
19 May 2018 06:26:37 WIB | Iyad Wirayuda | dibaca 1273
Ket: ilustrasi
Foto: google
Jeddah, LiputanBMI - Kewajiban seorang istri kepada suami yang paling dasar adalah taat. Itulah yang ingin kulakukan kepada Mas Samsudin, pria yang sudah menjadi suamiku selama tiga tahun.

Baru tiga bulan menikah, Mas Samsudin menyuruhku bekerja ke luar negeri sebagai TKI. Permintaan itupun begitu saja aktu turuti, dengan maksud dapat menyenangkan hati suami dan demi masa depan rumah tangga kami.

Rencana itu sebenarnya ditentang oleh keluargaku, apalagi bapak yang tidak rela anak perempuan satu-satunya pergi ke luar negeri. Dari awal bapak dan ibu memang tidak setuju dengan Mas Samsudin, tapi karena aku memaksa pernikahan itupun akhirnya terjadi.

Sebagai seorang istri, tentu aku lebih memilih kehendak suami dibanding ucapan orang tua hingga aku pun pergi ke Arab Saudi menjadi TKI. Gajiku selama bekerja semuanya dikirimkan ke suami, katanya untuk membuat rumah.

Banyak kabar miring tentang kelakuan suamiku yang disampaikan tetangga, sahabat dan keluarga. Mas Samsudin katanya punya perempuan lain, sering mabuk-mabukan dan gajiku habis dipakai foya-foya.

Namun kabar itu tidak aku hiraukan, aku tetap mempercayai suamiku bahwa dia orang yang baik dan bertanggung jawab.

Tetapi memang ada hal yang aneh pada Mas Samsudin, setiap aku izin untuk melaksanakan ibadah umrah dia selalu melarang. Walaupun jarak kami berjauhan, aku selalu minta izin jika akan bepergian.

Majikanku pun berkali-kali menasehatiku agar aku pergi umrah mumpung dekat dengan Makkah. Tapi ajakan itu selalu kutolak demi sebuah ketaatan kepada suamiku.

Rupanya saking kasihannya kepadaku, majikan perempuanku meminta untuk diantar ke sebuah tempat yang ternyata aku dibawa ke Masjidil Haram.

Adem rasanya hati ini berada di dekat Kabah yang menjadi kiblatnya seluruh umat Islam di seluruh dunia. Selesai shalat tahitaul masjid dua rakaat, majikanku memberi segelas air zamzam dan dilanjutkan dengan tawaf mengelilingi Kabah.

Langkah demi langkah aku mengitari Kabah dengan bibir melantukan asma Allah. Majikan dengan erat selalu memegangi tanganku hingga putaran ketujuh pintu Kabah persis di depanku.

Tiba-tiba terbayang sosok bapak dan ibu serasa persis di depan pelupuk mata. Air mata pun jatuh berurai sambil berdoa memegang dinding Kabah.

Ya Allah, sesak sekali rasanya dada mengingat kesalahan-kesalahan yang telah kuperbuat kepada orang tua. Selama hidupku aku belum pernah sedikitpun membahagiankan kedua orang tuaku.

Dinding Kabah masih kupegang, kucoba mengingat suamiku, tapi rasanya aneh sekali, rasa sayang dan rasa cinta yang dulu begitu besar kini berbalik benci. Mungkin Allah telah menunjukan kuasanya hingga pengaruh jahat yang diberikan suami kini telah hilang.

Mungkin ini sudah menjadi irisan takdir yang harus aku lalui. Aku yakin Allah tidak akan menguji hambanya di luar batas kemampuannya.

Tiga bulan lagi aku akan cuti ke kampung halaman, mungkin ini waktu yang tepat untuk mengakhiri pernikahanku dengan Mas Samsudin, karena pernikahan tanpa didasari rasa cinta tidak akan pernah bahagia, apalagi Mas Samsudin bukan laki-laki yang baik yang begitu teganya memanfaakanku.

(IYD/IYD, 19/05)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
BNI Saudi Arabia
ATC Cargo
psstki