Berita > Seputar TKI
KEMENPPPA Latih Mental Calon PMI Perempuan
12 Apr 2018 01:24:02 WIB | Juwarih | dibaca 983
Ket: Perserta Pelatihan Penguatan Mental Calon Pekerja Migran Indonesia Perempuan di Bogor Valley Hotel, 9 - 12 April 2018
Foto: Facebook
Jakarta, LiputanBMI - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KEMENPPPA) menggelar pelatihan penguatan mental untuk calon pekerja migran Indonesia (PMI) perempuan selama empat hari (9 - 12 April 2018) di Bogor Valley Hotel.

Deputi Perlindungan Hak Perempuan, KEMENPPPA memandang penting untuk memberikan pelatihan “Penguatan Mental Calon PMI Perempuan” untuk menunjang keberhasilan pemerintah Indonesia dalam mempersiapkan calon PMI yang berkepribadian tangguh, mental sang juara dan asertif, serta memahami hak - hak mereka sesuai dengan ketentuan perundang - undangan yang berlaku di Indonesia maupun di negara penempatan.

"Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pembekalan bagi calon pekerja migran perempuan, baik pada sektor formal ataupun informal," ucap Kasubbid Pencegahan Pelanggaran Hak Perempuan Dalam Ketenagakerjaan di Luar Negeri, Maya Septiyana, kepada LiputanBMI melalui pesan elektronik, pada Rabu (11/4/2018).

Selain itu, kata Maya kegiatan tersebut untuk menguatkan program pembekalan akhir pemberangkatan (PAP) yang diselenggarakan oleh Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI).

"Kita harapkan calon PMI Perempuan sudah sangat siap secara mental sebelum mereka bekerja ke luar negeri," harapnya.

Maya menambahkan, saat ini peserta yang dilatih sebanyak 102 orang yang ditargetkan oleh KEMENPPPA pada tahun 2018 sejumlah 300 orang calon PMI perempuan.

"Prioritas peserta untuk CPMI yang belum pernah berangkat bekerja ke luar negeri sebelumnya," tambahnya.

Anwar Ma'arif, salah satu fasilitator dalam pelatihan tersebut menjelaskan, materi yang disampaikan dalam kegiatan ini ada 12 poin diantaranya mengenai; 1. Gender, 2. Bentuk ketidakadilan gender, 3 Gender & migrasi, 4. Ketidakadilan gender dalam proses migrasi, 5. Membulatkan tekad, 6. Bina Keluarga PMI, 7. Tahapan, hak, kontraktual, jamsos PMI, 8. Adat & budaya negara tujuan, 9. Mengenal tipe kepribadian, 10. Komunikasi efektif,
11. Mengelola stress, 12. Relaksasi.

"Selain itu peserta diberi tahu lembaga-lembaga untuk mengadu jika menghadapi masalah. Masing-masing materi ada sub bagiannya," jelas Bobi.

Kolipah calon PMI Taiwan asal Indramayu yang sedang mengikuti proses di PT Bina Adidaya Mandiri merasa bangga karena terpilih sebagai salah satu peserta pelatihan.

" Saya sangat bersyukur dan merasa bangga bisa terpilih menjadi salah satu perserta dalam pelatihan ini, karena tidak semua calon PMI diberi kesempatan untuk mengikuti," ucap Kolipah.

Ia melanjutkan, setelah mengikuti proses pelatihan dirinya dapat mengetahui tentang hak-hak dan kewajiban sebagai PMI yang mana sebelumnya tidak Kolipah ketahui.

"Jujur sekarang saya baru tahu ternyata pemerintah sangat peduli terhadap para PMI," ungkapnya.

Sementara itu, ketua umum Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI), Hariyanto mengomentari pelatihan penguatan mental bagi PMI perempuan ini yang menurutnya sangat bagus, karena menjawab apa yang dibutuhkan oleh calon buruh migran perempuan.

"Salah satunya yang ditekankan dalam pelatihan ini adalah memberikan pemahaman mengenai hak dan kewajiban yang tertuang dalam hukum nasional dan hukum internasional, meberikan pemahaman soal risiko bermigrasi dan cara menyelesaikan masalahnya, pemahaman hukum dan budaya di dalam negeri maupun di negara penempatan," kata Hariyanto

Menurut Hariyanto, jika buruh migran diberi pemahaman mengenai apa saja yang boleh dan tidak boleh dilalukan sesuai hukum dan budaya di negara penempatan, ia meyakini permasalahan PMI yang notabane bisa merugikan buruh migran itu sendiri dapat diminimalisir.

Pelatihan ini diajarkan cara mengatasi masalah kemana harus mengadu dan bagaimana bisa mengelola konflik sehingga bisa mengatasi kejenuhan buruh migran di saat bekerja dan bisa fokus pada tujuan awal bermigrasi.

"Model pelatihan seperti ini harus dikembangkan menjadi sebuah sistem pelatihan bagi buruh migran secara menyeluruh, karena pelatihan yang sejak tahun 2016 sampai sekarang masih berbasis projek KPPA belum menjadi sebuah sistem pendidikan atau training vokasi untuk calon buruh migran secara umum," tandasnya.

(JWR/IYD, 12/04)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
BNI Saudi Arabia
jambore keluarga migran 2018
ATC Cargo
psstki