Berita > Ekosospol
Ramadan di Negeri Jiran, Makan-Minum di Tempat Umum Bisa Dihukum
14 Jun 2017 22:03:53 WIB | Figo Kurniawan | dibaca 1301
Ket: Bazar Ramadan di negeri jiran biasanya dimulai setelah pukul 2 petang
Foto: utusan.com.my

Kuala Lumpur, LiputanBMI - Di negeri jiran Malaysia, makan, minum, atau mengisap rokok pada siang hari di tempat umum saat bulan Ramadan, bagi orang Islam yang sudah akil baligh dianggap sebagai sebuah kesalahan.

Bahkan, akibat kesalahan tersebut, risikonya bisa dikenakan hukuman denda atau hukuman penjara. Seperti yang dialami oleh empat lelaki di Perlis, Malaysia.

Sebagaimana dilansir salah satu portal berita Malaysia utusan.com.my, Jumat (2/6/2017), empat lelaki beragama Islam telah ditahan atas kesalahan makan siang di tempat terbuka dalam ‘Operasi Bersepadu Ramadan’ di wilayah sekitar Kangar, Perlis (salah satu wilayah setingkat provinsi di Malaysia).

Operasi tersebut melibatkan Jabatan Hal Ehwal Agama (Departemen Agama) Islam Negeri Perlis/JAIPs, bekerjasama dengan Majelis Perbandaran Kangar/MPK (semacam Satpol PP), Jabatan Kesihatan (Departemen Kesehatan) dan juga polis (polisi).

Keempat lelaki tersebut ditahan karena melanggar Undang Undang Syarak Negeri Perlis (Seksyen 25 (1) (b) Enakmen Jenayah Dalam Syarak Negeri Perlis 1991,Pindan 2012), demikian utusan.com.my melaporkan.

Undang-undang tersebut tidak hanya mengatur soal larangan makan-minum di tempat umum, tetapi juga mengatur soal larangan pedagang yang beragama Islam untuk tidak menjual makanan dan/atau minuman siap saji sebelum pukul 02.00 petang selama bulan Ramadan.

Pada awal Ramadan tahun ini (Sabtu, 27/5), utusan.com.my juga telah melansir imbauan dari JAIPs tentang hal ini.

Dalam imbauanya, selama bulan Ramadan JAIPs meminta umat Islam agar mematuhi peraturan yang sudah ditetapkan jika tidak ingin dikenakan tindakan hukum.

Bagi pedagang yang didapati terbukti bersalah, bisa didenda maksimum RM3.000 (sekitar Rp 9 juta) atau penjara tidak lebih dua tahun atau kedua-duanya bagi kesalahan pertama. Sementara bagi kesalahan kedua serta berikutnya, bisa dikenakan denda tidak melebihi RM5.000 (sekitar Rp 15 juta) atau penjara tidak melebihi tiga tahun atau kedua-duanya.







(FK, 14/06)

PBBC Liputan BMI
Universitas Terbuka Riyadh